Sini Pergi

Dulu sudah pernah dikatakan di sini bahwa panggilan umat beriman, entah apapun agamanya, adalah tinggal bersama Allah. Dari pihak manusia, itu adalah soal mendengarkan Sabda-Nya (bukan struktur agamanya), menangkap substansi kemanusiaan dalam setiap perjumpaan, karena di situlah Allah mewahyukan Diri. Jadi, mboh Anda suksesnya setengah mati atau ancurnya seburuk-buruknya kehancuran, makmur semakmur-makmurnya atau melarat semiskin-miskinnya, atau sedang-sedang aja, kalau tidak ‘tinggal bersama Allah’ tadi, sami mawon sama saja kehilangan makna hidup yang menyelamatkan Anda.

Njuk kenapa bacaan hari ini mengisahkan para murid disuruh pergi? Lha ya jelas toh, keselamatan lantaran ‘tinggal bersama Allah’ tadi tak pernah bisa dikungkung bagi diri sendiri, mesti diwartakan, ditularkan supaya semakin banyak orang ikut ‘tinggal bersama Allah’ [bukan supaya semakin banyak orang beragama Katolik atau agama lainnya!]. Tinggal bersama Allah takkan membebani orang yang diutus pergi mewartakan kabar gembira karena ‘tinggal bersama Allah’ itu tadi. Malah sebaliknya, semakin meringankan orang yang bersangkutan. Bandingkan misalnya dengan bagaimana tumbuhan semakin berakar, semakin mampu pula menjulang tinggi menjulurkan batang ranting daun buahnya…

Bacaan pertama melanjutkan kisah haru biru Yusuf yang membuka identitasnya kepada saudara-saudaranya yang telah menjualnya kepada musafir sampai akhirnya dia tiba di Mesir. Saudara-saudaranya jelas ketakutan karena mereka berhadapan dengan sosok yang sekarang punya kuasa besar dan menentukan untuk hidup mereka semua. Apa jadinya kalau dia tak mau menjual makanan kepada mereka? Apa jadinya kalau dia mau balas dendam atas perbuatan mereka dulu? Macam-macam ketakutan dan kekhawatiran bisa jadi hinggap di pikiran mereka, tetapi pernyataan Yusuf memberi terang, juga terhadap bacaan mengenai perutusan murid-murid Yesus.

Yusuf mengatakan,”Janganlah bersusah hati dan menyesali diri karena kamu menjual aku ke sini, karena untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu ke sini.”
Itulah contoh bagaimana ‘tinggal bersama Allah’ itu juga berdimensi misioner, apostolik, kerasulan, dakwah, dan apapunlah istilahnya. Yusuf yang ‘tinggal bersama Allah’ itu dapat melihat sejarah hidupnya dalam terang keselamatan Allah Sang Pemelihara Kehidupan [jadi jelas toh untuk itu orang tidak harus beragama Katolik atau agama lainnya?]. Orang macam ini takkan terpancang pada kepahitan hidupnya dan bergerak maju, tetapi gerak majunya bukan waton karena ia mampu memaknai kepahitan hidupnya untuk merealisasikan warta keselamatan Allah.

Yusuf ini tidak kuliah teologi secara formal, tetapi begitulah, dia berteologi bermodalkan keyakinan bahwa di atas naik turun kehidupan manusiawi ini, Allahlah Sang Empunya. Memaksakan skenario diri di atas agenda pemeliharaan hidup Allah itu cuma menghasilkan pribadi-pribadi yang lari tunggang langgang dari medan hidup kemanusiaan.

Ya Allah, bantulah kami supaya semakin mudah melihat suka duka hidup kami sebagai goresan tangan-Mu yang hendak memelihara kehidupan jiwa kami. Amin.


HARI KAMIS BIASA XIV A/1
13 Juli 2017

Kej 44,18-21.23b-29;45,1-5
Mat 10,7-15

Kamis Biasa XIV C/2 2016: Konduktor atau Resistor?
Kamis Biasa XIV B/1 2015: Allah Tidak Eksklusif

Kamis Biasa XIV A/2 2014: Don’t Burden Yourself

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s