Heavenly Idol

Saya berasal dari generasi jauh sebelum dulu populer program pencarian bakat Indonesian Idol, tetapi saya tidak buta-buta amat dengan pengganti program Indonesian Idol yang dinamai The Voice. Saya tidak ingat persis apakah Indonesian Idol memberi peluang bagi peserta untuk memilih mentor, tetapi sejauh pengetahuan saya benar, peserta The Voice memilih mentor yang selama penampilannya menjadi juri.

Indonesian Idol tampaknya lebih dekat dengan kisah bacaan hari ini dalam hal peserta dipilih oleh mentor, bukan peserta menentukan siapa yang jadi mentornya. Ini membawa asosiasi pada perkataan “Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Aku yang memilih kamu.” Lha iya ya, apa mungkin orang memilih mentor Allah yang ini atau Allah yang itu, wong cuma ada satu Allah?

Memilih agama tentu bisa dan de facto memang agama adalah pilihan orang, tetapi apakah pilihannya itu mengantarnya pada mentor yang sejati ya akhirnya bergantung pada interaksi orang itu dengan Sang Mentor sesungguhnya. Memang begitulah, panggilan orang beriman itu lebih mirip heavenly idol ala Indonesian Idol daripada The Voice: orang membiarkan dirinya dipilih dan kalau dia terpilih, itu seperti dua belas murid Yesus, ia dipilih dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Jadi rada aneh juga kalau orang mendeteksi diri, tertarik akan panggilan Tuhan itu, tetapi menghakimi dirinya sendiri tak layak karena punya aneka kelemahan dari A sampai Z. 

Poinnya bukan apakah orang beriman itu punya kelemahan dari A sampai Z, melainkan apakah ia punya kehendak untuk mentransformasi kelemahan dari A sampai Z itu dalam proses hidup berimannya, dalam proses mengikuti Mentor Sejatinya (bukan agamanya). Seperti posting mengenai doa yang sungguh-sungguh itu, kerap kali persoalannya tidak terletak pada kelemahan orang, tetapi pada ketakutannya untuk menanggung konsekuensi dari tindakan mengikuti Mentor Sejati itu. Orang sebetulnya mampu, tapi tak mau. Artinya, ia menyangkal kata-kata Sang Mentor tadi: bukan kamu yang memilih aku, melainkan aku yang memilih kamu.

Ya Allah, mohon rahmat keberanian untuk menjawab ya terhadap panggilan-Mu kepada kami untuk menjadi umat beriman. Amin.


HARI RABU BIASA XIV A/1
12 Juli 2017

Kej 41,55-57;42,5-7a.17-24a
Mat 10,1-7

Rabu Biasa XIV C/2 2016: Mulai dari Fitrah
Rabu Biasa XIV B/1 2015: Hari Gini Kristenisasi? *
Rabu Biasa XIV A/2 2014: Dua Jenis Golput

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s