Berani Berdoa Sungguhan?

Dari seorang guru rohani kemarin saya dengar ungkapan yang memang klop, minimal dengan kenyataan hidup saya. Bunyinya kurang lebih begini: Bisa jadi orang tidak mau sungguh-sungguh berdoa bukan karena tidak bisa berdoa atau malas berdoa, melainkan karena ia tidak mau menanggung konsekuensi doa yang sungguh-sungguh itu. Kenapa? Karena konsekuensi doa yang sungguh-sungguh itu akhirnya merupakan challenge bagi si pendoa untuk merealisasikan panggilan Allah sendiri.

Ini berlaku entah untuk pemula dalam hidup rohani ataupun untuk mereka yang sudah maju dalam hidup rohani. Untuk pemula, challenge itu menjadi berat karena ia sendiri bisa jadi malas mengesampingkan kesenangan-kesenangan pribadinya, tak bisa membagi waktu, tak punya endurance dan tak sanggup hening. Untuk yang maju, challenge itu tak kalah beratnya karena bisa jadi yang mesti dikesampingkannya bukan cuma kesenangan pribadi, melainkan juga hal-hal baik yang dimilikinya. Dibutuhkan modal semangat lepas bebas yang sepaket dengan semangat magis. Nah, itu mesti memuat tegangan yang jadi pergumulan hidup orang beriman.

Bacaan pertama hari ini menceritakan suatu pergumulan. Yakub yang melarikan diri dari Esau, yang kehilangan berkat hak sulungnya, di suatu tempat bergumul dengan sosok misterius. Mesakke kowe ki, Yakub; ini sepertinya dalam perjalanan untuk berbaikan kembali dengan Esau, malah bergulat dengan orang misterius yang sebelum fajar minta diri. Takut matahari po ya? Kerennya, sosok misterius itu tak bisa mengalahkan Yakub dan satu-satunya cara menghentikan pergulatan itu adalah dengan memukul sendi pangkal paha dan karena itu orang-orang Israel tidak makan daging yang menutupi pangkal paha (pasti bukan sirloin steak). Apa hubungannya sih? Mboh.

Saya lebih tertarik melihat pergumulannya daripada sirloinnya. Hubungannya dengan kata-kata guru rohani tadi. Betul, bisa jadi orang tak mau berdoa karena ia tak mau menanggung konsekuensi doa itu sendiri, bahwa dia mesti mengeluarkan potensi dirinya sejauh mungkin, dan itu jelas bukan tanpa pengorbanan! Saya buka rahasia, tapi jangan bilang siapa-siapa ya. Dulu saya ingin jadi imam/pastor yang bukan biarawan. Pokoknya jadi imam/pastor, titik, tak perlu macam-macam embel-embel. Lha kok jebulnya malah diterima di lembaga pendidikan calon imam biarawan. Langsung bergejolak dan latihan-latihan doa menjadi sangat berat buat saya; inspiratif, tetapi berat untuk menjalaninya. Saya seperti sudah punya sangu dalam batin saya: kalau saya berdoa dan menemukan kehendak Allah, nanti saya gak jadi imam/pastor seperti yang saya bayangkan itu dong!

Sadarlah saya betapa doa Ignasius bukan doa ringan. Menyanyikannya mungkin gampang, tetapi mendoakannya sungguh-sungguh… hmm:
Take Lord, and receive all my liberty, my memory, my understanding, and my entire will, all that I have and possess. Thou hast given all to me. To Thee, O lord, I return it. All is Thine, dispose of it wholly according to Thy will. Give me Thy love and Thy grace, for this is sufficient for me.

Orang seperti Farisi yang menuduh Yesus bekerja dengan koordinasi setan kurang lebih akan menanggapi doa Ignasius itu dengan: makan tuh cinta dan rahmat! [Sementara dia sendiri tak bersedia memakannya]


HARI SELASA BIASA XIV A/1
Peringatan Wajib S. Benediktus, Abas
11 Juli 2017

Kej 32,22-32
Mat 9,32-38

Selasa Biasa XIV C/2 2016: Tendang Aja 
Selasa Biasa XIV B/1 2015: Bencana & Efek Jera? *
Selasa Biasa XIV A/2 2014: Bela Rasa vs Tindakan

3 replies

  1. halo romo

    dalam pemahaman sya yg cupet …dari permenungan diatas .. dapat sya mengerti ” dlm doa mohon agar Tuhan mengambil semua yg ada padaku dan dgn semua itu Tuhan mendayagunakanNya demi kemulianNya”.. bila trcapai “aksekse” (mngkin sya salah dlm pengistilahan) sprti ini kebahagiaan apa yg di dapat? wujudnya apa sukacita dlm hal ini?.. mohon tanggapan romo.. trimakasih

    Like

    • Halo Om HPI, susah menggambarkan wujudnya ya, bisa macem2, tetapi di dalamnya orang happy. Seperti seorang anak berjerih payah mengerjakan PR sulit, mesti mengesampingkan dorongan untuk main atau nonton atau aktivitas lain yang menyenangkan, dan setelah berhasil menyelesaikannya, ia puas, happy, lega, dan bersemangat entah untuk kemudian bermain atau mengerjakan yang lain. Salam.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s