Ayo Tidur (Lagi?)

Maaf, bukan bermaksud mengorek luka. Ini observasi yang tentu tidak valid tetapi memang kerap saya jumpai dalam hidup sehari-hari. Mereka yang mengalami sakit terminal, seakan-akan mengalami euforia hidup ketika gejala medis menunjukkan peningkatan aktivitas fungsi biologis secara positif, tetapi itu hanya menjadi persiapan bagi si pasien untuk memasuki tahap kehidupan lain. Setelah sekian waktu kondisi merosot sampai kritis, tahu-tahu seorang pasien bisa bicara secara lebih jelas, sumringah, dan ketika penunggunya merasa lega karena itu, lalu dengan lebih tenang bisa pergi ke kamar mandi atau ke warung dekat rumah sakit, saat itulah pasien menghembuskan nafas terakhir. Bahasa Jawanya pasien itu nilapke, seperti seorang ibu atau ayah hendak pergi dan tak ingin membuat anaknya menangis. Maaf, sekali lagi maaf, ini saya tuliskan bukan untuk membuat pembaca sedih karena mungkin pengalamannya bicara hal yang sama, tetapi untuk melihat suatu alur kisah yang di baliknya memang terungkap cinta Allah yang jauh lebih besar daripada aneka macam kelekatan atau proyek hidup manusia sendiri.

Bacaan hari ini mengisahkan bagaimana Yesus diundang untuk menghidupkan kembali anak perempuan seorang kepala rumah ibadat. Dalam perjalanan, ada tamu tak diundang yang mengeksplisitkan iman seorang perempuan yang penyakit gawatnya sudah nemplok selama dua belas tahun dan karena iman keyakinannya itulah ia pun mendapat kesembuhan. Ujung dari sakit memang adalah kematian. Perempuan berpenyakit gawat ini sembuh; fungsi biologisnya berjalan baik kembali. Setelah itu, di hadapan kematian anak perempuan kepala rumah ibadat, Yesus memberi label ‘tidur’, alih-alih mati.

Dari khotbah tadi pagi saya dengar kurang lebih begini. Tidur adalah momen ketika aparat inderawi kita istirahat supaya fungsi biologis bisa berjalan optimal dan ndelalahnya dalam tidur itulah bisa terjadi mimpi dan mimpi ini bukan hanya bunga tidur, melainkan juga bisa jadi medium bagi Allah yang berdiri atas hidup orang, yang bisa menyatakan kerinduan batin orang terhadap Allah sendiri dan kerinduan inilah yang memberi hidup (dah ini saya tak tahu apakah ini khotbah romo tadi pagi atau lamunan saya). Pengandaiannya, orang yang tidur tadi bangun dan mengangkat kesadaran akan proyek Allah itu dalam hidupnya.

Ya itu pertanyaan saya juga: bagaimana orang terus memelihara kesadaran supaya momen tidur itu menjadi medium baginya untuk membiarkan Allah membuat beberapa customization dalam hidupnya sedemikian rupa sehingga orang beriman memang mengarahkan hidupnya pada kebangkitan Roh, juga dalam keterbatasan fisiknya.

Ya Allah, mohon rahmat kesadaran bahwa hidup ini sepenuhnya milik-Mu. Amin.


HARI SENIN BIASA XIV A/1
10 Juli 2017

Kej 28,10-22a
Mat 9,18-26

Senin Biasa XIV C/2 2016: Iman Penjamin Mutu?
Senin Biasa XIV B/1 2015: Agama Kok Eksklusif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s