Konduktor atau Resistor?

Ada orang yang tangannya seperti bermuatan listrik sehingga setiap kali ia menyentuh saklar lampu, lampu itu malah mengalami kortsluiting dan mati. Entah bagaimana ia punya kualitas sebagai konduktor yang baik dan karena tak ada resistor pada saklar itu, matilah si lampu. Halah, ini analisis dari mana ya, gatau deh, wong cuman nongol waktu baca teks yang disodorkan hari ini, lanjutan nasihat untuk perutusan para rasul yang disodorkan kemarin.

“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Saling memaafkan yang dirayakan saudara-saudari Muslim ditempatkan pada hari kemenangan, setelah selama satu bulan mengelola diri dengan puasa dan pantang. Memang sih sebagian orang anggaran makannya bisa jadi bertambah justru pada masa puasa, tetapi prinsipnya orang tak butuh biaya untuk berpantang dan puasa. Buah dari pantang dan puasa itu sewajarnya adalah kerendahan hati di hadapan Allah yang mahabesar dan pengampunan juga jadi konsekuensi buah rohani itu.

Yesus menyodorkan beberapa hal yang bisa jadi berfungsi lebih sebagai resistor daripada konduktor pengampunan dari Allah: emas, bekal, kelebihan dari apa yang dibutuhkan.

Ya Allah, semoga kami semakin mampu menjadi penghantar cinta dan pengampunan-Mu. Amin.


HARI KAMIS BIASA XIV
7 Juli 2016

Hos 11,1.3-4.8c-9
Mat 10,7-15

Posting Kamis Biasa XIV B/1 Tahun 2015: Allah Tidak Eksklusif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s