The Love Within

Sejujurnya, saya maunya menyampaikan poin-poin reflektif dengan perumpamaan, misalnya dengan tokoh Tiwal dan Tiwul, tetapi apa daya, saya tak punya kemampuan cukup untuk melakukannya. Guru dari Nazareth memiliki kemampuan untuk memakai perumpamaan di sana-sini dalam mengajar. Alih-alih memberikan ulasan rasional atau wacana intelektual, beliau banyak memanfaatkan perumpamaan. Apa kelebihan perumpamaan? Ia menguak kebenaran bukan sebagai indoktrinasi kebenaran seakan-akan si pemberi adalah pemilik kebenaran, melainkan sebagai pemantik api dalam diri penerimanya.

Andaikanlah Anda menerima paket yang tertera nama dan alamat Anda, nama pengirimnya juga Anda kenal, tetapi pengirim itu tak memberi tahu Anda perkara pengiriman paket itu, tentu dalam diri Anda muncul rasa kepo. Rasa kepo ini menggerakkan Anda untuk mengetahui isi paket itu. [Pesan sponsor: jangan membuka paket yang baik pengirim maupun isinya tak Anda ketahui]. Dalam arti itulah, kebenaran terkuak dari dalam, bukan sebagai hasil indoktrinasi, bukan sebagai titik acuan untuk mengerti apakah kata orang itu benar. Kebenaran itu sendiri menampakkan diri dari dalam diri penerimanya.
Lah, itu barusan bukannya perumpamaan juga ya, Rom?🤭

Teks bacaan hari ini menampilkan perumpamaan pertama dari tujuh perumpamaan dalam bab 13 Injil Matius. Introduksinya, gerak dari rumah ke tepi danau, mengingatkan komunitas Matius pada proses keluarnya bangsa Israel dari perbudakan di Mesir menyeberangi Laut Merah. Artinya, perumpamaan yang disodorkan Guru dari Nazareth pun sesungguhnya dimaksudkan supaya pendengarnya mengalami dorongan untuk bergerak ke hidup baru. Dari kenyamanan terjajah (begitulah pribadi-pribadi heteronom, yang merasa nyaman dengan mengikuti apa kata orang) menuju kemerdekaan yang tak selalu menjanjikan kenyamanan.

Mungkin benih dalam perumpamaan bisa juga diganti dengan hujan, yang toh dalam keadaan tertentu memungkinkan tunas tumbuhan muncul dari sela-sela konblok, tetapi bisa juga membuat banjir. Mungkin juga penabur benihnya bisa diganti, bukan lagi Tuhan, tetapi manusia sendiri. Benihnya tetap sama, meskipun istilahnya bisa berbeda: Kerajaan Allah, ukhuwwah islamiyyah, ‘semoga semua makhluk berbahagia’ (karena saya tak tahu istilahnya dalam Buddha), dan lain sebagainya. Konsekuensinya tak jauh berbeda. Pewartaan, dakwah, misi, zending, atau apa lagi namanya, semestinyalah mengikuti kaidah kebenaran sebagai introduksi perumpamaan tadi: mengubah hidup orang dari dalam.

Sekitar dua puluh tahun lalu saya pernah berkhotbah dan mengambil cerita yang membuat ribuan umat tiba-tiba meledak tawanya; tawanya sulit saya hentikan, tetapi saya malah mendengar suara tangis di dekat saya. Anak-anak. Mungkin karena kaget, ia menangis. Akan tetapi, itu sudah cukup membuat saya berefleksi: apakah yang saya sampaikan mengundang pendengar untuk menangkap benih kebenaran, atau hanya mengundang tawa belaka.
Mungkin mengundang tawa masih lebih baik daripada mengundang pikiran atau prasangka buruk, sekurang-kurangnya karena tawa menyehatkan. Akan tetapi, kalau tujuannya itu, mengapa tidak bikin forum stand up comedy saja?🤭 Ya ini cuma curcol.

Pertanyaan reflektifnya: apakah tutur kata dan tindakan orang beriman itu memprovokasi pendengar atau penontonnya untuk kepo terhadap Kerajaan Allah alias ukhuwwah islamiyyah atau malah untuk semakin tergila-gila pada identitas sektarian yang memecah belah kemanusiaan. Yang pertama mengandaikan the love within. Yang kedua, name it yourself.

Tuhan, mohon rahmat kejernihan hati dan budi untuk menangkap cinta-Mu. Amin.


MINGGU BIASA XV A/2
12 Juli 2020

Yes 55,10-11
Rm 8,18-23

Mat 13,1-23

Minggu Biasa XV A/1 2017: Kompetensi Duit
Minggu Biasa XV A/2 2014: Man behind the Scene

3 replies

  1. Sedih atau muram (atau merasa nelangsa) ketika merenungkan tulisan ini.
    Mewujudkan Kerajaan Allah itu tdk gampang, Rm, jatuh bangun banyak jatuhnya. Mengikuti jalan Yesus yg terus turun sampai kehilangan diri😭

    Seperti sajak Sapardi ttg kata yg tak sempat diucapkan kayu kepada api yg menjdkannya abu,
    Atau awan yg hendak disampaikannya pd hujan yg menjdkannya tiada😭😭😭😭😭

    Like

  2. Bagaikan mengirim anak domba ke pembantaian (sekawanan srigala) 😭😭😭

    Tp untunglah ada pesan kmrn, wise as serpents, innocent (harmless) as doves. Kl tidak, bs setengah mati
    Harus rajin berlatih lari sprint nih, jd kl gagal masih bs mengambil langkah seribu 😋🤭

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s