Reputasi Kebenaran

Ketika Si Ketakutan mengetuk pintu, Bang Iman beranjak membuka, tapi ternyata gak ada orangnya. Rupanya sudah digusah alias diusir oleh Mbak Cinta. Mungkin begitulah asal usul ungkapan perfect love casts out fear, yang tertera dalam 1Yoh 4,18.🤭 Mungkin, tapi yang jelas itu cuma modifikasi saya terhadap posting empat tahun lalu yang berjudul Jangan-janganisme.
Mengenai ketakutan yang disinggung dalam teks hari ini sendiri baru saja dibahas pada posting tiga minggu lalu, Bisnis Ketakutan, yang melumpuhkan orang dari dalam dirinya sendiri. Njuk mau bahas apa lagi dong?😂 Ya masih bahas ketakutanlah….

Anda tentu sudah dengar bahwa penularan virus covid-19 ternyata tidak cuma lewat droplet hujan lokal dari mulut penderita sakit, tetapi juga lewat airborne. Penalarannya sederhana sekali, kalau gak ada udara, gimana droplet itu bisa lompat jauh sampai satu meter dari mulut penderita, kan? Lha, nek pas penderita meluncurkan dropletnya itu di jembatan penyeberangan dan angin berhembus naik apa ya dropletnya turun? Ikut ke mana angin bertiup, bukan? Jadi, jangkauannya bisa saja lebih dari satu meter.

Meskipun demikian, Anda tentu tak perlu membayangkan bahwa seluruh lapisan atmosfer ini dipenuhi virus covid-19, bahkan meskipun kepada Anda sudah diwartakan untuk hidup berdampingan dengannya. Anda tidak membawa mikroskop ke mana-mana, dan Anda tak tahu di mana virus covid-19 berada. Solusinya ya masih sama dengan yang dari dulu saya bilang: first things first. Betul bahwa berdiam diri di rumah pun tak menjamin seratus persen orang bebas dari virus korona, tetapi itu tidak menyimpulkan bahwa di luar rumah lebih terjamin, bukan? Ini bisa jadi menakutkan karena orang tak bisa mengendalikan lingkungan sekitarnya.

Sudah saya sampaikan juga bahwa ketakutan bisa jadi bentuk sensitivitas terhadap bahaya, dan karena itu, ketakutan tidak per sé buruk, tetapi bisa baik untuk membantu orang mengidentifikasi potensi bahaya. Nah, kalau dalam teks bacaan hari ini ditegaskan supaya orang jangan takut pada ini itu, tentu bukan maksudnya supaya orang tak mengidentifikasi potensi bahaya dong. Orang beriman tetap perlu mengidentifikasi bahaya, tetapi kemudian memilah-milahnya. Dalam teks bacaan hari ini tolok ukur pemilahannya kurang lebih berbunyi begini: bahaya itu merusak citra atau jiwanya, menjatuhkan reputasi atau substansi kebenaran. Kalau bahaya itu cuma mencoreng citra atau reputasi, ketakutan cuma buang-buang energi. Kalau membahayakan jiwa dan substansi kebenaran, orang beriman perlu berpikir ulang jangan-jangan keputusannya keliru.

Dengan parafrase lain, saya merujuk kebebasan yang biasanya secara sederhana dibedakan dengan frase ‘bebas dari’ dan ‘bebas untuk’. Memang dituliskan pesan supaya orang tidak takut terhadap/dari ini itu, tetapi itu cuma konsekuensi dari nasihat supaya orang tidak takut untuk menyatakan kebenaran. Singkatnya, nasihat Guru dari Nazareth itu berbunyi supaya orang beriman tak takut pada konsekuensi pernyataan kebenaran. Kenapa? Karena itu cuma membahayakan citra atau reputasi. Kebenaran membangun citra atau reputasinya sendiri, yang membawa orang pada keselamatan, kedamaian, kebahagiaan sejatinya.

Tuhan, mohon rahmat untuk memilah-milah dan mengambil keputusan semata yang membangun keselamatan-Mu, alih-alih sekadar mempertahankan citra atau reputasi. Amin.


SABTU BIASA XIV A/2
Pw S. Benediktus, Abas
11 Juli 2020

Yes 6,1-8
Mat 10,24-33

Sabtu Biasa XIV B/2 2018: Jihad Yuk
Sabtu Biasa XIV C/2 2016: Jangan-janganisme
Sabtu Biasa XIV A/2 2014: Guru Tak Lebih dari Muridnya

1 reply

  1. Mmg covid bikin semua pusing… kebenaran pun kelimpungan dibuatnya. Akhirnya u menegakkan kebenaran itu mereka memutuskan mengadakan public meeting. Berhubung covid, pakailah mereka fasilitas zoom meeting.

    Mula2 k berbicara, k muncul di layar, kebenaran berjejer rapi
    k-e-b-e-n-a-r-a-n.

    Lalu b bersuara, b muncul di layar, semua gelisah Susunannya koq jd aneh
    Jd ‘bkeenaran’
    K ada ide. Tunggu. K buru2 bergeser ke tempat b Jadilah ‘bekenaran’🤣

    Lalu r bersuara, jadilah ‘rbekenaan’
    K makin pusing, dia buru2 bergeser ke posisi r
    Hah. Malah jd ‘rbeenakan’

    Saking pusing, akhirnya mereka membubarkan zoom meeting.
    Lalu k berkata: ini pengalaman pahit buat kita. Lain kali kl public meeting dg zoom meeting, biarkan saya saja yg bicara kebenaran🤣🤣🤣

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s