Jihad Yuk

Mereka yang sungguh hendak beriman memang mau tak mau jadi martir. Entah mengapa kata ini di kepala saya mesti nempel dengan kata jihad. Secara etimologis jihad berarti upaya yang terarah pada tujuan tertentu. Dalam hukum, sesuai ajaran umum dan tradisi, jihad ini mencakup aksi militer untuk ekspansi agama, dan kalau diperlukan, untuk pembelaannya. Ide ini didasari oleh prinsip fundamental akan universalitas agama. Jihad wajib sifatnya. Maka, kalau orang tak berjihad, ia mesti bertanya sendiri apakah memang sungguh mau beriman. Persoalannya selalu terletak pada pemaknaan jihad itu, yang bisa jadi direduksi sebagai upaya membangun kekuasaan politis dan proselitisme belaka.

Dulu sebelum kekristenan masuk dalam abad gelap, kemartiran darah senantiasa berarti menanggung persekusi sampai mati sebagai konsekuensi mempertahankan iman kepercayaan Kristen. Artinya, mereka mesti memberi kesaksian hidup beriman secara tertentu bahkan kalau konsekuensinya adalah persekusi dan kematian. Tak mengherankan bahwa pada abad pertama terbentuknya, kekristenan mengalami persekusi luar biasa dan jumlah martir tak terhitung banyaknya. Apakah zaman sekarang ini masih ada martir seperti itu? Ya tentu saja masih, tetapi memang tidak semasif pada masa perdana dulu, barangkali karena persekutor sekarang ini lebih ‘beradab’ (kecuali bangsa teroris yang keji di beberapa tempat di dunia ini).

Apakah kalau manusia sudah beradab lalu kemartiran darah itu bakal hilang? Bisa jadi, bentuk kemartirannya berubah. Darah tak perlu dikucurkan, tetapi yang tercurah adalah tenaga, keringat, pikiran, perhatian yang serius terhadap problem-problem kemanusiaan, kesejahteraan bersama, keadilan sosial, dan sejenisnya. Kemartiran jenis ini, bisa juga berisiko pengucuran darah, lebih terbuka sifatnya, tak bisa lagi diklaim sebagai milik agama tertentu. Bahasanya bisa jadi khas agama tertentu tetapi isinya bersifat universal, panggilan bagi semua orang yang punya komitmen terhadap kultur kehidupan. Setiap orang beriman, dalam konteks hidupnya masing-masing, dipanggil untuk menjadi saksi, menjadi martir, berjihad. Yang bisanya komentar, ya komentarnya dibuat bermutu; yang bisa mengelola aset negara ya berusaha supaya lebih dari separuh hasilnya digunakan untuk kepentingan negara, alih-alih bancakan nasional untuk kepentingan partai; yang bisa lari sprint ya berlari sekencang mungkin, dan seterusnya.

Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk menjalankan tugas kami sebagai kesaksian bahwa besarlah cinta-Mu kepada kami. Amin.


SABTU BIASA XIV B/2
14 Juli 2018

Yes 6,1-8
Mat 10,24-33

Sabtu Biasa XIV A/1 2017: Persekusi
Sabtu Biasa XIV C/2 2016: Jangan-janganisme
Sabtu Biasa XIV B/1 2015: Transparan Itu Sesuatu

Sabtu Biasa XIV A/2 2014: Guru Tak Lebih dari Muridnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s