Usir Roh Jahatnya

Semalam saya memimpin ibadat peringatan empat puluh hari seseorang dipanggil Tuhan dan pesan yang saya bawa pulang ialah panggilan untuk menjadi teladan autentisitas dan totalitas hidup orang. Jebulnya pesan itu terhubung juga dengan teks bacaan hari ini mengenai panggilan para murid atau panggilan orang beriman pada umumnya. Dalam teks jelas ditunjukkan bahwa mereka itu dipanggil untuk mewartakan supaya orang bertobat dan karena itu juga mereka dibekali kuasa untuk mengusir roh jahat dan menyembuhkan aneka penyakit (yang dalam pandangan orang dulu memang terhubung dengan dosa dan kejahatan; silakan lihat posting Some Notes on Healing). Lha njuk apa hubungannya dengan teladan autentisitas dan totalitas hidup orang?

Ada dua catatan yang bisa saya sampaikan di sini. Pertama, mereka itu dipanggil bukan untuk mewartakan doktrin agama, melainkan untuk mempersaksikan kualitas hidup yang mereka asimilasi dari guru mereka. Jadi, bukan cuma soal terima ajaran, mengangguk-anggukkan kepala, melainkan soal menanamkannya dalam hidup. Di situlah letak totalitas hidup mereka: bukan soal menghafal dan mengingat bunyi ajaran sang guru, melainkan soal menghidupi ajaran sang guru itu. Kalau cuma transfer doktrin, bahkan filsafat pendidikan pun menolaknya: pendidikan mestilah suatu proses membangun karakter orang supaya bisa memaknai misteri hidup yang dijalaninya. Dengan demikian, orang disebut beriman bukan karena mengajarkan doktrin agama tertentu, melainkan karena menghidupi dengan gembira panggilan hidup yang diberikan guru imannya.

Kedua, kuasa yang diberikan kepada para murid bukanlah kuasa seperti dimengerti di tahun politik ini. Bahkan, kuasa mengusir roh jahat pun dalam arti biblis tidak dimaksudkan sebagai eksorsisme berbau-bau semi-magis sebagaimana belakangan muncul di suatu berita online. Kuasa yang diberikan kepada para murid itu, ἐξουσία (exousia), berkenaan dengan kekuatan terhadap roh tak murni di dunia ini yang hukum dasarnya adalah dominasi, kekerasan, korup, jahat, yang melawan upaya-upaya kemanusiaan, melawan kultur kehidupan. Artinya, kekuasaan ini melawan aneka bentuk dorongan yang berujung pada dehumanisasi.

Dengan demikian, sebetulnya pesan teks hari ini begitu jelas: orang beriman mesti memanifestasikan kekuatan yang melawan apa saja yang menghancurkan hidup, apa saja yang memisahkan orang dari autentisitas hidupnya, apa saja yang membuat orang jadi tidak utuh, tak bisa connect dengan kenyataan dirinya, tak bisa membedakan hidupnya dari aneka ilusi atau mimpi yang manipulatif. Dengan cara itulah orang beriman bisa menjadi teladan bagi orang lainnya: ia hidup secara autentik dan utuh, bisa membedakan mana yang nyata dan khayal, mana yang benar dan salah, mana yang menumbuhkan kultur kehidupan dan mana yang mempromosikan budaya kematian. Orang beriman macam ini tak hidup dalam dunia gerutu, tetapi dunia syukur; orang beriman macam ini tak hidup dalam dunia wudelnya sendiri, tetapi dalam koneksinya dengan umat beriman lain, bukan untuk mendominasi, melainkan untuk menemukan bersama kehendak Allah itu.

Kalau begitu, mengusir roh jahat tak lain ialah upaya orang beriman sendiri untuk memurnikan rohnya supaya terpaut pada Allah, lebih daripada kekuatan lain yang memang nyata ada, tetapi tak memberi kehidupan: mamon, kekuatan gelap, menghalalkan segala cara, dan sejenisnya.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat merealisasikan kuasa-Mu untuk menyingkirkan roh jahat dalam diri kami dan sesama. Amin.


HARI MINGGU BIASA XV B/2
15 Juli 2018

Am 7,12-15
Ef 1,3-14
Mrk 6,7-13

Posting Tahun 2015: Beriman Kok Rempong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s