Mana Roh Jahatnya

Tidak mudah menjelaskan soal roh kepada orang yang segera mengasosiasikannya dengan setan, malaikat, atau roh gentayangan penunggu situs-situs tertentu. Memang saya percaya akan satu Allah, pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan dan yang tak kelihatan itu bisa saja menyeruak ke ranah kelihatan. Meskipun demikian, bagaimana yang tak kelihatan itu menyeruak ke ranah kelihatan bisa jadi sensasional dan justru membuyarkan fokus orang biasa pada ranah yang kelihatan dan karenanya saya hendak meneruskan tulisan kemarin: Usir Roh Jahatnya.

Di situ saya katakan bahwa kuasa mengusir roh jahat dalam arti biblis (seturut Kitab Suci) tidak pertama-tama bicara soal kuasa mengusir setan seperti dibuat dalam upacara ‘resmi’ eksorsisme Gereja Katolik. Itu adalah kuasa melawan aneka kekuatan yang berujung pada dehumanisasi: orang tak bisa jadi manusia utuh secara jasmani dan rohani. Contoh konkret dehumanisasi: mbèbèkngikut aja apa kata orang tanpa menemukan motivasi sendiri, berpikir sendiri, kreatif melihat kemungkinan baru, dan seterusnya. Singkatnya: manusia robot, otomatis meneruskan tradisi tanpa konteks. Mengapa orang mbèbèk? Karena ia, entah dari dirinya atau akibat orang lain, tak bisa connect dengan dirinya sendiri, tak mengenal diri. Semua ditentukan dari luar dirinya dan kalau itu jadi ideologi, apapun ditempuhnya dan yang lain-lain diterjangnya dan semakin lama kegagalannya untuk connect dengan dirinya sendiri itu membuat ia tak lagi mampu melihat kenyataan hidup biasa. Keadaan ini bisa jadi bantal empuk bagi ‘yang tak kelihatan’ itu. Itu wajar saja.

Pertanyaan saya, mengapa roh yang merasuki orang itu mesti disebut roh jahat? Apakah memang ia jahat? Bukankah kalau ia menyeruak ke ranah kelihatan itu berarti ada bisnisnya yang belum selesai di ranah kelihatan? Bukankah kalau begitu justru ia butuh doa supaya ikhlas meninggalkan ranah kelihatan? Jathilan, atau dengan sebutan lain di daerah lainnya, bukankah juga memanfaatkan ‘yang tak kelihatan’? Apakah ‘yang tak kelihatan’ itu jahat? Saya kira tidak. Malah, pertunjukan itu menegaskan bahwa memang ada kekuatan yang lebih daripada kekuatan manusiawi belaka. Kesan saya, bukan itu roh jahatnya. Roh jahatnya ada pada mereka yang memakai kekuatan itu untuk tujuan egois dan jahat mereka: santet, pesugihan, korupsi, perkosaan, penipuan, dan sebagainya. Kalau begitu, apakah yang disebut roh itu?

Pada blog ini, kata ‘roh’ alias spirit merujuk pada totalitas hidup afektif seseorang: cara memandangnya, cara merasanya, cara berpikirnya, cara menilainya, cara bertindaknya. Semakin utuh dan seimbang, semakin baiklah rohnya. Pemelihara roh jahat tadi punya cara pandang, cara berpikir, cara bertindak yang menghalalkan segala cara, termasuk menguasai, memanfaatkan ‘yang tak kelihatan’ itu. Nah, kalau orang meladeni cara main pemelihara roh jahat ini, jika tak hati-hati, ia malah mengambil alih “tugas malaikat” untuk melawan setan.

Dalam dunia medis, ada kalanya orang terlambat ditangani, tahu-tahu sudah kritis dan dokter tak sanggup membantu. Salah dokternyakah? Tentu tidak. Begitu pula dalam matra rohani. Kerasukan setan hanyalah akumulasi kelalaian orang untuk meneguhkan roh baiknya. Orang lalai memelihara cara pandang, cara pikir, cara merasa, cara bertindak, cara berdoa yang autentik, jujur terhadap dirinya sendiri sehingga lama kelamaan kendali diambil oleh pihak lain, koneksi dengan dirinya sendiri terblokade. Dalam kasus tertentu mungkin dibutuhkan eksorsisme, pengusiran setan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s