Salah satu cerita anak-anak yang bisa dibawa sampai masa remaja dan dewasa ialah bahwa surga itu dijaga oleh Santo Petrus, sedangkan pintu surga dijaga oleh Lusifer. Dongeng ini oleh salah seorang dosen saya pernah dipakai untuk bikin teka-teki, dan tak ada seorang mahasiswa pun yang bisa menjawabnya sehingga semua tetap harus mengikuti perkuliahan dan ujian akhir semester untuk bisa lulus dari mata kuliahnya. Nah, kalau Anda bisa menjawab teka-tekinya ini, Anda bisa lulus mata kuliahnya tanpa perlu mengikuti perkuliahannya. Yakin deh; soalnya beliaunya, dosen saya itu, sudah meninggal beberapa tahun sebelum pandemi lalu. Kalau Anda tetap ngotot mau ikut perkuliahannya, ya saya tak bisa melarangnya.
Teka-tekinya mudah sekali. Petrus dan Lusifer berdiri masing-masing di depan pintu surga dan neraka. Anda tidak tahu siapa yang di depan pintu neraka dan siapa yang di depan pintu surga. Repotnya, Anda juga tidak tahu yang mana Petrus dan yang mana Lusifer. Anda hanya punya kepastian bahwa Lusifer selalu berlawanan dengan Petrus. Kalau Petrus bilang iya, berarti Lusifer bilang tidak; begitu seterusnya mengenai surga-neraka, kiri-kanan, benar-salah, atas-bawah, hitam-putih, panjang-pendek, laki-perempuan, dosa-keutamaan, dan lain-lainnya. Tugas Anda hanya menghampiri salah satu dari keduanya dan melontarkan hanya satu pertanyaan atau pernyataan yang pasti dari responnya bisa diketahui di mana atau yang mana pintu surga atau neraka meskipun Anda tetap tak tahu yang mana Petrus dan yang mana Lusifer. Pertanyaan atau pernyataan macam manakah itu?
Selain dongeng Santo Petrus penjaga surga itu, ada juga pernyataan dalam teks bacaan hari ini yang ditangkap secara keliru oleh banyak orang karena absennya konteks terjemahannya. Kalau Anda baca teks Indonesia, di situ dituliskan bahwa Yesus berkata kepada Petrus di hadapan teman-temannya: “Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Lha, karena kata ganti pertama ditulis huruf besar, tak mengherankan bahwa ini berarti Tuhan membangun Gereja-Nya. Akibatnya, trus dihubung-hubungkan deh pernyataan itu dengan perkara kuasa orang untuk menyatakan halal haram, dosa tak dosa, kunci surga neraka, dan seterusnya.
Akan tetapi, apa iya begitu sih?
Selidik punya selidik, teksnya memuat kata ekklesia yang sekarang ini memang diterjemahkan sebagai Gereja. Padahal, pada zaman hidup Yesus itu, ekklesia adalah semacam mimbar publik atau barangkali rapat er te atau rembug desa yang membahas perkara-perkara hidup bersama. Itu sangat politis karena yang dibicarakan adalah kepentingan bersama. Bagaimana itu jadi trade mark untuk pengakuan dosa dalam agama Katolik, saya tak ingat bagaimana ceritanya. Saya tak mengatakan bahwa itu tak ada hubungannya, tetapi naiflah kita jika langsung menghubungkannya begitu saja tanpa mengerti konteksnya.
Andai saja konteks itu lebih dimengerti, kiranya teks itu juga jadi inspiratif: ini bukan lagi perkara kuasa seorang imam melepaskan dosa orang (yang tentu, semua orang juga tahu, itu adalah kuasa Allah sendiri) atau menyatakannya tetap ada, melainkan soal bagaimana seorang imam ini, bersama orang lain, termasuk mereka yang datang mengaku dosa, bersama-sama membuat diskresi alias discernment mengenai apa yang pantas diikat atau dilepaskan di dunia ini dengan tolok ukur apa yang pantas diikat atau dilepaskan di surga.
Sebentar, surga pun tak bisa dimengerti sebagai lokasi, tetapi sebagai suatu kenyataan hidup yang memungkinkan orang tertambat pada kunci yang sudah sejak zaman jebot ditawarkan Allah kepada manusia, bagaimana pun caranya.
Seperti apakah kunci surga itu? Barangkali seperti konsolasi yang memungkinkan harapan, cinta, dan iman orang bertumbuh untuk unlock the next level of life. Barangkali seperti rapat er te atau lingkungan atau rembug desa yang membuat semakin lama tak ada lagi orang desa yang ditindas oleh bangsanya sendiri (sedemikian tertindasnya sampai-sampai mereka tak sadar sedang ditindas).
Tuhan, mohon rahmat supaya kami bertekun dalam harapan, iman, dan cinta yang memungkinkan hidup kami menjadi kunci surga bagi semakin banyak orang. Amin.
MINGGU BIASA XXI A
27 Agustus 2023
Yes 22,19-23
Rm 11,33-36
Mat 16,13-20
Posting 2017: Who Do You Say I Am?
Posting 2014: Siapa Pegang Kunci Surga?
