Jika titik dua diletakkan setelah kata bisnis dalam judul posting ini, mungkin Anda sudah bisa langsung menangkap maksud posting ini. Tidak perlu baca sampai selesai, Anda mendapat poin. Tanpa titik dua, Anda akan membayangkan bisnis yang berhubungan dengan pernak-pernik peribadatan: jualan perlengkapan sembahyang, lilin, salib, rosario, wisata rohani, buku nyanyian, tempat retret, dan seterusnya. Begitulah fungsi titik dua. Pada kenyataannya, mungkin banyak orang beragama melupakan titik dua. Akibatnya fatal: orang bisa jadi tanpa ragu tertipu kebenaran semu atau palsu.
Saya berharap pembaca posting ini tidak terbilang dalam kelompok yang lupa titik dua. Mari kita lihat apa yang disodorkan teks bacaan hari ini dan pemikiran yang melatarinya. Ceritanya, seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus: manakah dari Hukum Taurat yang paling utama? Kita tahu, Hukum Taurat itu punya lebih dari 600 pasal mengenai hidup sehari-hari orang beragama, dari perkara cuci tangan sebelum makan bubur sampai memasukkan jenazah ke liang kubur. Dari sekian ratus itu, mana yang paling pokok?
Yesus tidak menjawab pertanyaan itu dengan memilih satu dari 600-an pasal itu, tetapi mengingatkan si penanya pada prinsip tauhid: kamu haruslah dengan segenap hati mencintai Tuhan YME yang hanya bisa ditunjukkan lewat segenap hati mencintai sesamamu! Akan tetapi, keharusan di situ tidak muncul dari luar seakan-akan mencintai itu datangnya dari hukum transaksi bisnis. Sebaliknya, keharusan di situ muncul sebagai ibadah.
Saya menjelaskannya dengan peristiwa Yesus mengobrak-abrik Bait Allah, yang menyimbolkan bagaimana ia mengobrak-abrik cara berpikir orang beragama baik zaman dulu maupun zaman sekarang. Ini bukan semata soal Bait Allah jadi tempat bisnis ibadah. Itu saja sudah tidak tepat, apalagi jika bisnis transaksional diterapkan dalam hubungan mereka dengan Tuhan!
Barangkali, kita akan mengelak. Kapan saya memperlakukan Tuhan dengan skema transaksional? Saya tulus kok beribadat!
Pada masa hidup Yesus, keyakinan semu terbangun bahkan dalam lingkaran agama Yahudi. Kata pembimbing rohani saat itu, untuk memperoleh berkat atau anugerah Tuhan (kesehatan, panen, kesuksesan usaha, keturunan, dll) orang perlu memberikan sesajen berupa hewan kurban sembelihan, kolekte, persepuluhan, dan seterusnya. Nah, gak mungkin kan orang banyak itu datang menghadap Tuhan langsung (kita masih ingat struktur Bait Allah; eh maaf, tidak saya taruh di blog, saya tayangkan di layar khotbah)? Mereka mesti titip ke pemimpin ibadat. Para pemimpin ibadat inilah yang kemudian bertugas menjalankan persembahan kepada Tuhan.
Yesus mengajarkan kebalikannya: kagak ada relevansinya mempersembahkan hewan, emas, dupa, mur, kemenyan kepada Tuhan demi mendapatkan anugerah Tuhan. Kenapa? Karena anugerah Tuhan itu gratis, tidak bergantung pada hewan persembahan atau persepuluhan manusia. Nah3, sontoloyo kan ajaran ini? Kalau anugerah Tuhan itu gratis, njuk apa relevansinya imam atau pemimpin ibadat? Tak mengherankan, para pemuka agama julid abis kepada Yesus karena mengganggu kenyamanan hidup mereka!
Jawaban Yesus dalam teks hari ini sebetulnya menunjukkan jalan keluar dari kebuntuan para pemuka agama yang picik itu. Mereka tetap relevan sejauh membawa persembahan dari umat sebagai jalan untuk mencintai sesama. Mari lihat hari kurban dalam tradisi Islam. Bukankah itu tak perlu dimengerti secara transaksional untuk gratifikasi atau menyuap Tuhan supaya menurunkan berkat? Bukankah itu bisa menunjukkan solidaritas bagi semua dengan berbagi makanan?
Dari perspektif Kristen lalu bisa dimengerti bahwa bisnis sungguh jadi jalan mulia untuk ibadah: sejauh bisnis itu dihidupi sebagai cara mengikuti Yesus, yang sudah menganugerahkan dirinya secara cuma-cuma. Tentu, bisnis Anda takkan jalan dengan sekadar bagi-bagi duit atau barang bisnis Anda. Hukum bisnis mesti ditaati sejauh klop dengan cara hidup mengikuti Yesus: cinta sesama berpelukan dengan cinta kepada Tuhan. Dengan begitu, tidak hanya bisnis, politik pun adalah ibadah; pendidikan adalah ibadah; dan seterusnya. Di sini, Anda punya paham sesat jika berupaya menjalankan bisnis, politik yang menghalalkan segala cara njuk hasilnya Anda pakai untuk menyumbang pembangunan tempat ibadat. Itu transaksional sekali.
Tuhan, mohon rahmat ketekunan untuk mengikuti Yesus dan membuat bisnis kami sungguh sebagai ibadah kepada-Mu. Amin.
HARI MINGGU BIASA XXXI B/2
3 November 2024
Ul 6,2-6
Ibr 7,23-28
Mrk 12,28b-34
Posting 2021: Siluman Cinta
Posting 2018: One Heart, One God
