Andai perintah amputasi bagi koruptor diterima mentah-mentah dan diterapkan secara konsekuen, mungkin ada banyak pendekar bertangan satu di negeri Kokononohaha. Di antara sekian banyak pendekar bertangan satu itu ada juga pendekar tanpa kepala, otak di balik aneka korupsi. Untunglah, negeri Kokononohaha tidak menganggap perintah potong tangan dan kepala itu secara letterleijk.
Ha tapi berarti malah Kokononohaha ini jadi pasar swalayan betulan dong, Rom? Ambil aja semaumu, selagi gak ketauan kan semua baik-baik saja. Kalau ketauan ya paling dipenjara doang; masih bisa makan tidur enak!
Iya sih, jadi yang punya gurita bisnis makin merajalela, yang masak pakai jelantah ya makin jadi bulan-bulanan atau tahun-tahunan keadaan.
Jadi setuju ya, Rom, koruptor itu dipenggal aja tangan atau kepalanya?
Duh, apa ada pilihan lain sih daripada pilihan ganda atau ss sss ts sts stss?
Teks bacaan utama hari ini memang menyebut daftar bagian tubuh (tangan, kaki, mata) orang yang kerap cedera karena kerja buruh tani. Anjuran ‘potong aja‘ pasti tidak dimaksudkan sebagai legalisasi potong tangan maling. Lagipula, konteks anjuran itu tampaknya akrab dengan cerita semacam Oedipus, yang mencungkil matanya daripada melihat anak-anaknya yang lahir dari ibu kandung Oedipus sendiri. Yesus itu masih mendinglah kasih diskon, cuma menganjurkan satu mata doang yang dicungkil, wkwkwkwk.
Singkat kata, gagasan bahwa lebih baik orang mengorbankan salah satu bagian tubuhnya daripada jatuh dalam kejahatan karena kehilangan iman itu sudah jadi pepatah umum saat teks itu ditulis. Itu untuk menunjukkan betapa seriusnya kejahatan lantaran kehilangan iman. Nota bene: pada blog ini iman tak pernah direduksi sebagai kategori agama, apa pun labelnya. Kejahatan tak kenal agama, tak perlu sok yakin bahwa nama, pakaian, bahkan Kitab Suci itu sakti. Sudah jelas sumpah di bawah Kitab Suci tak jadi jaminan sama sekali. Itu mengapa, kejahatan lantaran kehilangan iman itu jauh lebih serius daripada sekadar seratus, dua ratus, tiga ratus trilyun melayang.
Di negeri Cicinana, katanya, kepada seluruh pejabat baru dan keluarganya dipertontonkan bagaimana nasib koruptor. Maksudnya tentu untuk deterrence effect, mencegah korupsi.
Jadi, setuju ya, Rom, pejabat baru dan keluarganya disodori nasib para koruptor?
Hahaha, lha ya jelas tidak setuju, wong nasib koruptor enak sekali di sini! Bisa jadi malah dengan begitu mereka belajar gimana caranya supaya malingnya lebih elegan dan tak terdeteksi!
Selain dari itu, juga jika deterrence effect itu efektif memangkas anggaran #eh, mencegah rentenier, caranya tak terhubung dengan concern saya. Itu yang saya maksud dengan treat, cara memperlakukan mereka yang lemah dan tersingkir: bermartabat dan berharga diri. Ini pasti butuh waktu lama, dan justru karena butuh waktu lama, persoalannya pasti tidak terletak pada administrasi makan bergizi gratis, tetapi pada literasi. Ya, pemegang status quo bisa jadi jatuh kasihan pada rakyat yang menderita, dan itu digembar-gemborkannya, tetapi lupa alias tak punya literasi bahwa kenyamanannya tercipta karena penderitaan rakyat yang sama.
Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk membongkar kebutaan hidup kami. Amin.
KAMIS BIASA VII C/1
27 Februari 2025
Posting 2019: Mengemis Surga
Posting 2017: Tajam ke Luar Doang
