Tajam ke Luar Doang

Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Mungkin dengan ikan asin ya. Tapi sudahlah, tak usah meributkannya. Toh kalau gak jadi gubernur ya bisa jadi ketua KPK #lohomongopotokie. Pokoknya, tak ada perusahaan, bahkan sekelas Freeport sekalipun, yang punya proyek mengasinkan garam. Garam yang tak asin itu kehilangan jati dirinya dan orang yang kehilangan jati dirinya itu… ngapain juga hidup ya? Tak ada gunanya! [Wuih, sadis gak seh?]

Ungkapan itu dilontarkan Yesus kepada murid-muridnya sebagai pesan supaya waspada terhadap sikap-sikap yang tidak sehat lantaran tak punya pilihan radikal. Tentu ia tidak sedang mempromosikan radikalisme. Akan tetapi, kerap kali orang justru kehilangan jati dirinya karena pilihan-pilihan yang tak berakar pada kebenaran terdalam, waton mengikuti tren. Orang yang cuma mengikuti tren tentu tak inspiratif hidupnya, bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Dalam debat (pilkada) sih bisa jadi inspiratif kata-katanya, tetapi hidupnya tidak.

Kemarin dalam kegaduhan politik sepertinya ada ungkapan yang populer “tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas”. Akan tetapi, orang yang mengikuti tren ungkapan itu ya cuma memakainya untuk menyerang orang lain demi menggelembungkan dirinya. Prinsipnya ya sama: maling teriak maling. Kritiknya kepada orang lain berbunyi ‘tajam ke bawah tapi tumpul ke atas’ dan ia sendiri menghayati ‘tajam ke luar tapi tumpul ke dalam’. Kepada orang lain ia begitu demanding, tetapi begitu toleran kepada kelemahan diri sendiri.

Begini nasihat Sirakh supaya orang tak tumpul ke dalam: Jangan berkata: “Betul, aku sudah berdosa, tetapi apakah menimpa diriku? Sebab Tuhan panjang hati.” Jangan menyangka pengampunan terjamin, sehingga engkau menimbun dosa demi dosa. Jangan berkata: “Memang belas kasihan-Nya besar, dosaku yang banyak ini pasti diampuni-Nya.” Sebab baik belas kasihan maupun kemurkaan ada pada Tuhan, dan geram-Nya turun atas orang jahat. Jangan menunda-nunda untuk bertobat kepada Tuhan, tobatmu jangan kautangguhkan dari hari ke hari. Sebab tiba-tiba meletuslah kemurkaan Tuhan, dan pada saat penghukuman engkau dihancurkan. Jangan mengandalkan harta benda yang diperoleh dengan tidak adil, sebab pada saat penghukuman sedikitpun tak ada gunanya.

Ya Allah, mohon kejernihan hati dan budi supaya kami mampu mawas diri lebih daripada mengkritisi orang lain. Amin.


KAMIS BIASA VII A/1
Peringatan Wajib S. Polikarpus
23 Februari 2017

Sir 5,1-8
Mrk 9,41-50

Posting Tahun C/2 2016: Untung Miskin
Posting
Tahun A/2 2014: Living Sacrifice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s