Pak Teguh

Tidaklah sulit menjelaskan kepada para mahasiswa bahwa agama dalam masyarakat majemuk hanya menyumbang dimensi psikologis dalam moralitas dan, dengan demikian juga, politik. Artinya, agama hanya memberikan motivasi, orientasi supaya orang melakukan kebaikan, tetapi tolok ukur kebaikan sendiri tak bisa dimonopoli oleh agama tertentu. Begitu agama melampaui ranah itu dan mau mengangkangi politik dalam masyarakat plural, konflik pasti takkan terhindarkan.

Akan tetapi, tentu saja tidak semua orang beragama adalah mahasiswa yang bisa memahami penjelasan seperti itu. Orang beragama yang tidak kritis terhadap agamanya sendiri akan cenderung mendengarkan apa kata orang lebih daripada suara hatinya sendiri. Kalaupun ia mengklaim sudah berusaha mendengarkan suara hati terdalamnya, hatinya bisa jadi sudah terlanjur kotor, terkontaminasi ‘kata orang’ tadi, sehingga tak lagi bisa kritis.

Apakah kekritisan orang itu bergantung pada kemampuan IQ seseorang? Rasa saya, sampai pada taraf tertentu iya. Lha, ‘tertentu’-nya itu gak jelas toh, seperti anu aja. Barangkali common sense jadi batasnya (apa itu common sense, mohon cari info sendiri ya; ini bukan kuliah filsafat pengetahuan). Kalau orang tak punya common sense, ia tak punya modal atau bahan untuk berpikir kritis (lha ya apa yang mau dikritisi kalau bukan common sense?).

Dalam teks hari ini dikisahkan bagaimana Petrus menjawab pertanyaan mengenai identitas Yesus dan Petrus tentu mendengar ‘kata orang’ sebagai common sense. Masuk akal juga kalau Yesus disebut sebagai bla3 atau bli3 atau blu3, karena dia memang ble3 dan blo3. Akan tetapi, ketika tiba gilirannya Petrus mesti menjawab dari hati terdalamnya, ia mengatasi blabliblubleblo tadi, dan memang jawaban itulah yang tepat. Apakah itu pendapat Petrus sendiri? Ternyata tidak.

Dikatakan pada teks “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu.” Lha njuk apa, genderuwo? Bukan! Itulah Roh Allah sendiri.

Betapa melegakannya kalau para hakim dari kursi meja hijaunya punya common sense yang didengarnya dari aneka macam pihak dan bisa mengambil keputusan yang dinyatakan oleh Roh Kudus. Ya, tapi itu cuma bisa diharapkan, tak bisa dipaksakan. Bukan apa-apa, orang seperti Petrus saja (yang tidak masuk dalam hiruk pikuk permainan politik) bisa salah mengambil keputusan, bisa bebal dan bahkan mengkhianati gurunya, apalagi orang yang terus menerus digempur suara-suara aneh dari mereka yang common sensenya ancur!

Semoga para pemimpin di negeri ini tetap teguh dalam menjalankan pelayanan publik dengan prinsip-prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Amin.


PESTA TAKHTA S. PETRUS
Rabu Biasa VII A/1
22 Februari 2017

1Ptr 5, 1-4
Mat 16,13-19

Posting Tahun Lalu: Roma Locuta, Causa Finita! 
Posting Tahun 2014: Papa Francesco

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s