Pendekar 212

Gurunya Wiro Sableng, yaitu Sinto Gendeng, tidak mengenal sistem angka biner 101, tetapi angka khusus 212, untuk mengatakan bahwa angka satu dan dua melekat pada manusia yang diciptakan oleh Yang Satu. Satu kepala, dua mata, satu hidung, dua lubang hidung, satu mulut, dua anu, satu anu, dan seterusnya. Ya, itu bisa-bisanya Sinto Gendeng membuat framing sih. Bisa jadi tiga tahi lalat dikatakan satu di sini, dua di anu [Laaaah…. nongol lagi anunya]. Yang penting kan dua satu dua! Rada maksa juga sih, uthak athik gathuk, ilmu cocokologi.

Tapi tak apa, dua satu dua Sinto Gendeng ini sekurang-kurangnya punya maksud luhur mengingatkan Wiro Sableng dan seluruh umat manusia untuk eling pada instansi transenden yang mengatasi hitung-hitungan manusiawi kita dan supaya semua saja berbakti kepada instansi yang Satu itu. Ini beda dengan cocokologi gerakan 212 yang you know what I mean lah…

Njuk apa hubungannya je, Rom, sama teks bacaan hari ini? Teks hari ini mengisahkan pemberitahuan kedua mengenai satu karakter Mesias yang mesti menderita dan dibunuh tapi pada hari kedua tambah satu akan bangkit. Abaikanlah hari kedua tambah satu tadi, dan memang itulah yang diabaikan oleh murid-murid Yesus, tetapi mereka menolak juga woro-woro alias announcement atau pengumuman yang disampaikan Yesus bahwa Mesias itu mesti menderita dan mati. Penolakan itu sebetulnya lebih merupakan ketidakpahaman mengenai Wiro Sableng sih. Harap maklum, waktu itu belum ada cerita silat Wiro Sableng.

Andaikan waktu itu sudah populer kisah Pendekar 212, saya yakin para murid bisa lebih memahami pengumuman Yesus itu. Maklum, Wiro Sableng itu memuat makna pendekar yang rendah hati alias tidak sombong meskipun mungkin tidak rajin menabung [Ya menabung kebaikan toh, Rom. Kebaikan kok ditabung… kebaikan malah justru mesti dibagi-bagikan #halahdibahas]. Artinya, meskipun digdaya, dia tidak menampakkan kedigdayaannya, sebaliknya malah berlagak lemah atau terbelakang. Sableng tenan to!

Kenyataannya, para murid belum juga paham. Mereka menanggapinya dengan sikap yang persis berlawanan: mentalitas kompetitif. Ini bukan kompetisi untuk mengembangkan kualitas hidup bersama, melainkan kompetisi untuk menegaskan diri lebih besar daripada yang lainnya. Bisa dimaklumi juga sih karena mereka hidup di alam penjajahan Romawi yang tentu saja orang-orangnya sudah begitu fasih dengan siapa kuat dia menang. Pemakluman itu tidak membenarkan tanggapan mereka terhadap undangan Yesus. Ya jelas beda dong Pendekar 212 dan gerakan 212.

Pada masa panasnya suhu politik di Jakarta ini, orang waras diundang untuk menilik calon pemimpin yang punya karakter sableng: mengisi konsep kepemimpinan dengan mentalitas pelayanan. Tentu saja, mana ada manusia sempurna sekarang ini, termasuk pemimpin yang mengadministrasi pelayanan itu. Akan tetapi, kalau orang hanya melihat ketidaksempurnaan pelayan itu (entah karena kasus normalisasi atau warasisasi, entah karena mulutnya), justru ada bahaya kepemimpinan jatuh pada pihak yang menghayati mentalitas kompetitif untuk kebesaran dirinya.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami boleh jadi pelayan-pelayan warta gembira-Mu. Amin.


SELASA BIASA VII A/1
21 Februari 2017

Sir 2,1-11
Mrk 9,30-37

Posting Tahun C/2 2016: Cinta via Luka
Posting Tahun A/2 2014: Joy: Jesus-Others-Yourself

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s