Lucunya Roh Jahat

Manifestasi kejahatan dewasa ini makin membuat orang baik jadi tak berdaya: kekerasan, narkoba, perang, sakit yang aneh-aneh, pengangguran, terorisme, dan lain-lain. Dalam situasi ketidakberdayaan itu orang cenderung menerapkan prinsip ‘mata ganti mata’ atau ‘gigi ganti gigi’ yang tidak juga memperbaiki kualitas hidup manusia. Teks bacaan hari ini meletakkan setting serupa: di hadapan situasi yang ada di luar kendali atau kemampuan orang, apa yang dapat dibuatnya? Orang-orang hidup dalam keputusasaan tanpa solusi, tanpa kepercayaan juga pada apa yang semestinya mereka hidupi, tapi maunya sih yang baik-baik.

Jawaban yang disodorkan Yesus jelas: peziarahan iman. Lah piye toh, wong situasi tak terkendali kok malah disuruh ziarah! Edan po kowe?

Saudara-saudari Muslim sangat akrab dengan ungkapan insha’Allah dan itu takkan pernah bisa diartikan sebagai sikap sangsi terhadap kekuasaan Tuhan. Yang dikatakan ayah dari anak yang kerasukan roh jahat itu persis berkebalikan dengan mentalitas itu: kalau kamu bisa berbuat sesuatu. Tentu saja, orang itu memang tidak memandang Yesus sebagai Tuhan, tetapi ini bukan problem doktrin teologis. Ini lebih soal sikap atau mentalitas dalam berhadapan dengan kekacauan hidup ini.

Dalam diskusi terbatasnya dengan para murid, Yesus menunjukkan rahasia di balik penyembuhan yang dilakukannya. Para murid yang sebenarnya punya kemampuan untuk mengusir setan itu ternyata juga mandul. Penjelasannya sederhana. Menurut tetangga saya, banyak orang pada zaman Yesus yang bicara mengenai setan dan pengusiran roh jahat. Orang-orang itu takut dan secara cerdik sebagian orang lainnya membuat bisnis atau politik ketakutan sehingga represi atau opresi bisa dilakukan dengan lebih mudah. Ini juga bisa digambarkan dengan situasi gelap Gereja Katolik pada masa Luther melancarkan protesnya: atas nama ganjaran surga-neraka orang-orang meraup suara dan uang dari umat sederhana yang mengalami ketakutan.

Pada masa sekarang pun itu masih terjadi, baik dalam level individual maupun kolektif. Manifestasi roh jahat itu bisa macam-macam, tetapi pokoknya menghapuskan kepercayaan, harapan, kekuatan orang untuk mendalami imannya dan malah sibuk dengan bisnis agama yang rentan dengan politik kekuasaan.

Maka dari itu, situasi politik yang ngeri-ngeri sedap pun sebenarnya perlu disikapi dengan modal yang diusulkan Yesus: doa. Apakah ini soal komat-kamit melafalkan mantra? Bukan! Kalau di situ soalnya, orang akan ribut dengan ekshibisi bahwa yang bisa mengusir roh jahat cuma romo, cuma ustad, cuma pemimpin agama, dan sejenisnya. Ini bukan pertama-tama soal ritual eksorsisme, melainkan soal peziarahan iman tadi. Setiap orang diundang untuk masuk ke kedalaman relasi dengan Allahnya melalui doa. Sekali lagi, bukan ritual.

Dengan kedalaman doa itu, orang bisa melihat bagaimana roh jahat memanifestasikan dirinya dan tak perlu takut dengan aneka gertakan dan gerak-geriknya yang lucu, menggemaskan, menjengkelkan, membuat eneg dan sebagainya. Mungkin perlu juga mendoakan supaya semakin banyak orang yang terbebaskan dari ketakutan akan hidupnya sendiri sehingga roh baik tak mendapat jalan untuk memberi kekuatan.

Ya Tuhan, mohon rahmat kekuatan iman supaya kami tetap berpihak kepada kebenaran-Mu lebih daripada menyandarkan hidup pada janji-janji politik yang disodorkan orang-orang korup. Amin.


SENIN BIASA VII A/1
20 Februari 2017

Sir 1,1-10
Mrk 9,14-29

Posting Tahun C/2 2016: Sukak-sukak Gueh!
Posting Tahun A/2 2014: Prayer: Recognition of God’s Way

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s