Cinta Nol Rupiah

Pada saat mendengar keluh kesah kelabu soal pengorbanan seseorang terhadap pihak yang dicintainya, Anda tahu bahwa di situ ketulusan absen. Ia sedang mengejar mimpi dan ideologinya sendiri dan tak sungguh-sungguh mencintai orang lain apa adanya. Ini tidak cuma terjadi dalam level individual, tetapi juga dalam level kolektif. Pada saat orang membayar down payment besar-besaran untuk kampanye dirinya, tendensi ketidaktulusannya dalam perpolitikan juga lebih kuat.

Sudah jadi rahasia umum, mekanisme macam ini rentan jadi modus eksploitasi duit rakyat untuk mengembalikan ‘pengorbanannya’ selama kampanye melalui aneka aturan yang menguntungkan penguasa. Tak mengherankan, janji kampanye bisa sungguh menggiurkan terutama untuk rakyat menengah ke bawah (yang jumlahnya lebih banyak daripada yang menengah ke atas, bukan?): entah itu DP nol persen atau nol rupiah, takkan pernah menggusur, membahagiakan masyarakat, dan lain sejenisnya. Ini sangat lezat untuk mereka yang tak mengerti bahayanya politik uang. Setelah terpilih, hukum ‘balas dendam’ dijalankan dan masyarakat lagi-lagi tak diuntungkan, atau keuntungannya nol persen tadi.

Nasihat Yesus yang lebih luhur daripada hukum ‘mata ganti mata, gigi ganti gigi’, dengan rumusan ‘siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu’ kerap kali dijadikan bahan cemoohan oleh orang yang berpikiran dangkal dan berwawasan sempit. Ya maklum dong, namanya wawasan sempit dan pikiran dangkal, apa saja dijadikan bahan cemoohan. Orang macam ini tak sanggup beranjak dari tahap awal perkembangan iman. Yang ada di kepalanya cuma hukum balas dendam, hukum keadilan hasil spekulasi manusia, hukum sebab akibat yang dimanipulasi oleh kepentingan manusia sendiri.

Nasihat Yesus itu bisa juga dimaknai supaya cinta orang semakin suci, terbebaskan dari attachment, dari kepentingan egoistik. Ini jenis cinta yang DP-nya memang nol rupiah, nol persen, atau bagaimanapun mau diistilahkan. Apakah ini menyalahi aturan perbankan? Pasti tidak. Gak ada aturan yang melarang orang untuk mencintai orang lain secara gratis, tanpa syarat. Sebaliknya, hukum justru menata supaya syarat-syarat yang disertakan dalam cinta manusia itu tidak melanggar prinsip keadilan sosial.

Lucu kan kalau hanya karena tidak dapat suara saat pilkada, si gubernur tak mau mengerahkan staf untuk mengatasi banjir di lokasi banjir yang mayoritas penduduknya tak memberikan suara untuknya? [Meskipun lebih tragis kalau insiden banjir jadi bahan tertawaan calon gubernur yang dipilih oleh mayoritas penduduk yang kebanjiran itu] Aneh gak sih guru yang ngincer muridnya yang kerap omong sendiri di kelas dan diberinya nilai jelek bagaimanapun baiknya pekerjaan murid itu?

Memang cinta tanpa DP atau cinta nol rupiah bukan perkara gampang dan kerap kali karena susahnya, orang menjadikannya bahan olok-olokan, bullying dan fitnah. Sejujurnya, saya punya secuil kecemasan kalau-kalau negeri ini bakal direnggut orang-orang yang dengan kejam menistakan agama demi kekuasaan. Bisa jadi, penista sebenarnya adalah justru mereka yang menuduh orang lain menista agama. Ini mengerikan.

Meskipun demikian, konsekuen dengan prinsip cinta tanpa DP tadi, pun kalau penista agama (entah yang sungguhan atau yang dipolitisir) mendapat kekuasaan di negeri ini, orang beriman yang tulus masih dapat mengandalkan sosok yang cintanya sungguh-sungguh tanpa DP: Allah sendiri.

Ya Tuhan, ajarilah kami berhati tulus dalam mencinta. Amin.


HARI MINGGU BIASA VII A/1
19 Februari 2017

Im 19,1-2.17-18
1Kor 3,16-23
Mat 5,38-48

Posting Tahun A/2 2014: He’s The Lord of All

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s