Pemimpin Kok Bunglon

Beauty will save the world. Itu kata Fyodor Dostoyevsky yang diletakkan dalam mulut tokoh idiot. Cerdik juga ya. Kalau pernyataan itu memang betul, ia mendapat pujian karena kebijaksanaan yang disodorkannya. Kalau keliru, ya namanya juga idiot! Akan tetapi, rasa saya, Dostoyevsky bukan orang licik. Ia menyodorkan kebijaksanaan dari refleksi seriusnya terhadap kehidupan dengan ungkapan seperti itu.

Masih ingat banjir langganan yang menerjang Bukit Duri dan calon gubernur yang menertawakan terjadinya banjir ini, bukan? Saya tak hendak berpolemik mengenai alternatif penggusuran. Ini dalam rangka mengudar ungkapan beauty will save the world tadi dengan inspirasi bacaan hari ini. Saya yakin, begitu orang mendengar kata beauty, yang terasosiasikan tentulah yang indah-indah, mulai dari wajah cantik sampai pemandangan eksotis. Itulah juga yang dimengerti orang mengenai kota yang beautiful: rapi, bersih, tertata. Dalam perspektif ini, banjir kiriman bukanlah bagian dari kota yang cantik dan tak mengherankan para developer mengiklankan perumahan yang bebas banjir. Cantik dan indah, kan?

Meskipun demikian, keindahan dan kecantikan tidak pernah melulu persoalan estetis. Dia menggandeng erat dimensi etis, bahkan juga religius. Estetika, etika, religiositas. Ini tiga hal yang diabaikan paslon nomor tiga, hahaha… nomor tiga ki yo sopo wong ada puluhan paslon bernomor tiga! To tell the truth, ini diabaikan bukan hanya paslon, melainkan juga kebanyakan orang seperti saya dan Anda. Maunya tertata tapi merenggut paksa kesadaran orang. Maunya berintegritas tapi malah jadi kutu loncat bagi capres, ketua partai, menteri, dan sebagainya. Maunya bersimpati pada rakyat kecil tapi menjadikannya komoditi kekuasaan. Masih banyak contoh mana kala religiositas diceraikan dari estetika dan etika.

Sebetulnya yang dinantikan penata kota ialah bahwa warga punya kesadaran untuk memindahkan dirinya dari tempat rawan yang bisa merusak keindahan seluruh kota. Akan tetapi, namanya juga manusia ya. Yang satu terburu-buru, yang lainnya tunggu langganan kelelep baru nyadar, yang lain lagi menertawakan yang terburu-buru tanpa simpati pada yang kelelep. Pokoknya, itulah dinamika relasi estetika-etika-religiositas yang tercabik-cabik karena tak banyak orang yang menjauhkan dirinya dari kapasitas bunglon yang oportunis.

Bacaan hari ini mengisahkan transfigurasi pasca pengumuman bahwa sosok Mesias yang diperkenalkan Yesus ialah Mesias yang memeluk penderitaan. Kisah pemuliaan macam ini tidak dimaksudkan untuk menertawakan penderitaan. Keindahan menyelamatkan dunia dari penderitaan itu. Apakah itu berarti penderitaan lenyap? Sama sekali tidak! Akan tetapi, penderitaan itu perlu ditempatkan dalam konteks keindahan. Atau keindahan itu mesti berhasil memberi makna, mereorientasi penderitaan dan dengan demikian dimensi religius manusia mengantarkannya pada objek kerinduan terdalamnya: kesatuan dengan Yang Ilahi, bukan kekuasaan nan cenderung korup, bukan nama besar yang rentan ilusi, bukan juga mimpi indah pemimpin yang hanya berupa janji.

Relasi harmonis keindahan, (hal yang lebih dari) kesantunan, dan religiositas, tak pernah bisa digapai dengan modal bunglon nan oportunis. Itu mengapa kalau ada sosok seperti ini, ia tak bakal berakar entah di universitas, entah di kementrian, entah di partai. Kalau pribadi bunglon ini akhirnya jadi pemimpin… semoga pemilihnya tabah menderita dan bisa melihatnya dalam frame estetika-etika-religiositas. Kalau tidak, tinggal pilih mengalami mimpi buruk saja.

Tuhan, bantulah kami untuk menjadi pribadi yang berintegritas karena kerinduan kami pada-Mu. Amin.


SABTU BIASA VI A/1
18 Februari 2017

Ibr 11,1-7
Mrk 9,2-13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s