Ksatria

Aku bersyukur karena alih-alih menyimpan kebencian atau perasaan pahit, aku sangat tenang meskipun tidak berarti mundur dari perjuangan. Hidup batinku semakin lebih sederhana, diperkuat dengan niat baik dan kepercayaan. Mungkin begitulah kata-kata Etty Hillesum, salah satu orang Yahudi korban kekejaman Nazi, kalau dia bisa berbahasa Indonesia.

Saya mesti berterus terang bahwa saya terharu mendengar pidato kekalahan Agus Yudhoyono. Biasanya ada pidato kemenangan, lha ini kok pidato kekalahan. Semoga beliau mendapat rida Allah untuk menemukan jalan paling tepat baginya untuk membaktikan diri pada kemanusiaan setelah memaksakan diri mengikuti plot orang tuanya. Kasihan juga ya anak kalau orang tua menyetir masa depannya, sebagaimana seorang dokter mengindoktrinasi anaknya supaya jadi dokter atau pedagang yang memplot anaknya jadi pedagang, dan semacamnya. Kalau saya boleh usul sih [saya mah apa atuh], sebaiknya Anda bangun karir politik dari bawah: kelurahan, kabupaten, kotamadya, dst. Bahkan ilmu teologi yang dianggap orang cuma ngawang-awang itu juga belakangan mesti berangkat dari bawah. Ini supaya ada sambungannya dengan akar rumput. Kalau gak gitu, jadinya cuma bawa nama besar [ya kalau bagus, kalau notorious?] pendahulu, pencitraan dan wacana.

Anyway, salut untuk Mas Agus atas sikap ksatria Anda. Semoga kata-kata Etty Hillesum juga berlaku bagi Anda sehingga Anda bisa membalik kekalahan ini justru sebagai kemenangan hidup Anda.

Pembalikan atau paradoks disodorkan dalam bacaan-bacaan hari ini. Dalam bacaan pertama, kisah menara Babel, ditunjukkan bagaimana orang hendak membangun menara dengan maksud supaya tak terserak tetapi akhirnya malah terserak. Katanya, dalam literatur Babilon, bab-ili berarti ‘gerbang Tuhan’ tetapi dalam bahasa Ibrani bunyi kata itu berarti ‘kebingungan’. Mau menggapai Yang Ilahi, jadinya malah berkelahi. Apa sebabnya? Bahasa yang kacau.

Dalam bacaan kedua, disodorkan panggilan Yesus: kalau mau mengikuti aku…. Tidak ada paksaan [bandingkanlah sekelompok orang yang memaksa-maksa orang untuk datang ke gerejanya] sama sekali. Panggilan itu adalah tawaran yang hanya bisa diterima secara aktif, bukan hadiah lotre yang tak menuntut apa-apa dari pihak yang sudah beli kupon. Baru aktif kalau pengambilan hadiahnya jadi ribet.

Lha, sayangnya, panggilan Yesus untuk mengikutinya itu sudah langsung menyodorkan paradoks: salib, orang mesti menyangkal diri. Semua orang tahu, begitulah risikonya. Kasus Munir bisa dibekukan. Kasus Udin bisa dipendam. Kasus Trisakti Semanggi bisa dibiarkan. Kasus Antasari juga bisa dijadikan komoditi politik. Begitulah kebenaran! Siapa yang mau mengikuti Kebenaran, mesti tahu bahwa risikonya adalah penderitaan yang ujungnya adalah kematian. Akan tetapi, persis di situlah nilai panggilan Yesus tadi. Karena ini adalah panggilan, penderitaan pun tidak dilihat sebagai beban yang menyedihkan.

Paradoks panggilan juga ditanggapi dengan paradoks: alih-alih bersungut-sungut karena kebenaran tak kunjung terkuak, orang berjuang seperti Etty Hillesum, tanpa kebencian atau rasa pahit, tetapi dengan ketenangan. Lebih dari itu, kabar gembira yang disodorkan Yesus bisa jadi menantang: bergembira dalam memanggul salib, dalam menyangkal diri, dalam melepas ideologi ideal diri supaya lebih sambung dengan realitas kehidupan.

Ya Allah, mohon rahmat kegembiraan hati untuk berjuang meluaskan keadilan-Mu bagi sesama. Amin.


JUMAT BIASA VI A/1
17 Februari 2017

Kej 11,1-9
Mrk 8,34-9,1

Posting Tahun A/2 2014: Faith Synchronized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s