Agama Pelangi

Bagaimana orang melihat pelangi bisa jadi mengindikasikan keakrabannya dengan Kitab suci. Silakan lihat posting ini kalau tak percaya (tapi kalau percaya dan mau lihat posting itu juga gapapa sih). Tentu bisa juga mengindikasikan seberapa jauh ia akrab dengan mie atau seberapa ingat ia pada koalisi politik. Halah, mau bahas apa sih pake’ pelangi-pelangi segala? Ya mboh. Wong katanya ada banyak jalan menuju Roma kok, ya terserah toh mau mulai dari mana, termasuk mulai dari pelangi.

Bacaan pertama menunjukkan pelangi sebagai tanda perjanjian antara Allah dan dunia, antara Allah dan umat-Nya. Ini jelas bukan perjanjian macam Renville, Linggarjati, atau Potsdam. Siapa juga yang bisa menuntut Allah kalau Ia melanggar perjanjian-Nya? Allah gak butuh perjanjian, gak butuh sumpah. Kalau mau ancurin manusia ya tinggal ancurin aja. Tapi kenapa Kitab Suci menyodorkan perjanjian itu ya? Tentu saja karena Kitab Suci adalah dokumentasi upaya manusia memahami misteri kehidupan ini dengan inspirasi Roh Kudus. Bukan Allah yang butuh janji, melainkan manusia; bukan Allah yang dituntut setia, melainkan manusia, dan seterusnya.

Trus, kenapa pelangi yang dijadikan tanda ya? Entahlah, tetapi memang pelangi juga ‘berbunyi’ untuk tata kelola politik bangsa. Ini lebih dari soal koalisi pelangi, yang bisa jadi ujung-ujungnya tetap kepentingan sektarian. Ini soal hidup dalam keanekawarnaan, keberagaman, pluralitas. Tanpa disadari, meskipun bangsa ini sudah merdeka selama kurang lebih 72 tahun, mental pelangi itu belum juga terbangun justru karena orang-orang beragama tak bisa melihat pelangi dalam hidup beragama. Maunya ‘murni’, malah kevatikan-vatikanan, kearab-araban, keamerika-amerikaan, dan sebagainya.

Saya senantiasa berharap semoga masyarakat happy dengan pelangi dan tidak hendak menghapusnya atau membuatnya jadi hitam putih karena agama sehingga bangsa majemuk ini jadi buram, suram, muram, dan bisa-bisa malah jadi haram untuk ditinggali bersama. Pilkada DKI putaran pertama tampaknya menepis kekhawatiran bahwa isu agama menjadi faktor dominan, tetapi ini baru terbukti nanti pada putaran kedua: jika lebih banyak pemilih yang konsisten dengan nasionalisme daripada ‘agama-isme’. [Siapa sih yang nasionalis? Eaaaa]

Memang, attachment terhadap agama terasa lebih nyaman. Topengnya enak dipakai karena dengan agama orang cenderung mengasosiasikan apa saja dengan moral yang baik. Padahal, secara logis tak ada hubungan antara agama dan moral. Kasus yang terungkap belakangan ini juga sudah memperlihatkan bahwa topeng agama pun tak bisa menyembunyikan kebenaran. Ini pula yang jadi bahan teguran keras Yesus terhadap Petrus yang memproklamasikan Yesus sebagai Mesias dalam bacaan kedua. Kenapa?

Petrus memikirkan Mesias yang imun terhadap penderitaan. Mesias ditafsirkan agama populer saat itu sebagai sosok jaya yang bakal mengalahkan semua paslon kafir #loh… Wacana yang disodorkan Yesus melampaui ranah pilkada: kalau orang mau melihat kebenaran, coba cek dulu, ada proses yang menuntut penderitaan gak? Lihat pula, apakah penderitaan itu terjadi karena ujungnya kepentingan diri atau penguakan kebenaran?

Menguak kebenaran ‘tanpa penderitaan’ bisa terjadi dengan mental hitam putih; yang berwarna dihabisi, alias orang lain yang menderita [lha rak malah orang lain yang menderita itu yang ada di koridor kebenaran]. Agama pelangi tidak bekerja dengan cara itu.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami melihat keindahan-Mu juga dalam keberagaman bangsa kami. Amin.


KAMIS BIASA VI A/1
16 Februari 2017

Kej 9,1-13
Mrk 8,27-33

Posting Tahun A/2 2014: Put Your Liberating Glass On!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s