Sahabat Setia

Tutur kata yang manis mendatangkan banyak teman, dan bahasa yang halus menimbulkan tanggapan yang menyenangkan. Mudah-mudahan kenalanmu banyak jumlahnya, tetapi dari antara seribu pilihlah satu saja sebagai penasihat. Jika engkau mau mendapat sahabat, ujilah dia dahulu, dan jangan segera percaya kepadanya. Sebab ada orang yang berteman menurut kesenangannya sendiri, tetapi pada hari kesukaranmu ia tidak bertahan. Ada juga teman yang berubah menjadi musuh, lalu menistakan kamu dengan menceritakan percekcokanmu dengan dia. Ada lagi teman yang ikut serta dalam perjamuanmu, tetapi ia tidak setia pada hari kemalanganmu. Pada waktu engkau sejahtera ia sehati sejiwa dengan dikau dan bergaul akrab dengan seisi rumahmu. Tetapi dalam kemalanganmu ia berbalik dan tidak mau kenal lagi dengan dikau… Teman setia merupakan pegangan yang kuat; yang menemukannya, menemukan suatu harta. Teman setia tiada ternilai, dan harganya tidak terbayar. Teman setia laksana jamu awet muda; hanya orang yang takwa akan menemukannya. Orang yang takwa mendapat sahabat sejati; sebab sebagaimana dia sendiri, demikian juga sahabatnya.

Sepertinya sudah jelas dengan sendirinya ya teks tersebut. Akan tetapi, pada kalimat-kalimat terakhir sebetulnya ada nuansa yang biasanya luput dari praktik hidup orang dalam berelasi dan persis itulah yang jadi persoalan pada bacaan kedua. “Hanya orang takwa yang menemukan teman setia; orang yang takwa mendapat sahabat sejati.” Apa yang kerap terjadi? Orang gagal fokus karena ngebet pada hasilnya: sahabat, teman setia, soulmate atau bagaimanapun itu mau diistilahkan.

Artinya? Relasi pertemanan cuma dilihat dalam perspektif horisontal ‘antara aku dan dia’. Ini hidup matinya pertemanan, maka seharusnya dia bla bla bla. Alhasil, tak mengherankan orang Farisi mencobai Yesus dengan kasus perceraian dan seperti biasanya, pertanyaan mereka selalu bernuansa legalistik: boleh gak selingkuh, boleh gak menceraikan pasangan, boleh gak gini gitu? Maka, ketika ditanya balik apa yang dikatakan Musa, mereka antusias menjawab bahwa memang Musa mengizinkannya dengan surat cerai.

Yesus melihat persoalannya jauh lebih dalam daripada soal surat cerai: justru karena ketegaran hatimulah Musa menuliskan perintah itu untuk kamu. Cerai itu muncul dari konflik horisontal karena Allah tidak dilibatkan dalam relasi itu dan tentu saja Musa mengantisipasi supaya salah satu pihak, dalam hal ini perempuan, tidak jadi bulan-bulanan sistem sosial; maka perlu surat cerai. Yesus tetap fokus pada pokok persoalannya: Allah tidak menghendaki relasi yang dipisahkan dari-Nya. 

Itu mengapa dalam bacaan pertama disebutkan bahwa hanya orang takwa yang menemukan teman setia. Kenapa? Karena orang takwa berpegang pada kehendak Allah dan pertemanan munculnya dari sana, bukan dari kepentingan egoistik untuk lari, penutup sepi, apalagi pelampiasan berahi. Orang yang takwa kepada Allah menguji pertemanannya dengan tolok ukur ‘ilahi’ dan memang persahabatan sejati yang berbuah manis tak pernah tanpa iman. 

Persahabatan sejati senantiasa mendorong orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk masuk ke kedalaman hati orang: Allah sendiri. Sayangnya, tak sedikit orang terpukau dan justru terhambat oleh aneka kelekatan (attachments) inderawi. Orang gagal fokus dan kehilangan Sahabat Setia karena tercengkam oleh problematika horisontal. Kalau berminat, silakan lirik posting A Lifetime Friend.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami senantiasa terpaut pada-Mu. Amin.


JUMAT BIASA VII A/1
24 Februari 2017

Sir 6,5-17
Mrk 10,1-12

Posting Tahun C/2 2016: Coba Suspensi Ah
Posting Tahun A/2 2014: Being Patient, Being A Patient

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s