How small U can feel

All of life is a coming home. Salesmen, secretaries, coal miners, beekeepers, sword swallowers. All of us. All the restless hearts of the world, all trying to find a way home. It’s hard to describe what I felt like then. Picture yourself for days in a driving snow. You don’t even know you’re walking in circles. the heaviness of your legs in the drifts, your shouts disappearing into the wind. How small you can feel. How far a way home can be.

Ini kutipan dari pembukaan film Patch Adams yang diantisipasi teks bacaan pertama hari ini: Manusia diciptakan Tuhan dari tanah, dan ke sana juga ia akan dikembalikan. Tentu tak perlu ribut dengan kata tanah. Pokoknya, ini soal azas dan dasar. Yang menarik perhatian saya ialah bagaimana teks itu bisa jadi pengantar pada bacaan kedua tentang privilese yang diberikan Yesus kepada anak-anak: how small you can feel.

Salah satu konsep dasar yang saya sampaikan untuk Pendidikan (Lintas) Agama adalah pengalaman religius. Saya berusaha meyakinkan mahasiswa bahwa pengalaman religius itu menjangkau setiap orang, pun yang tidak beragama, entah mereka mau mengakuinya atau tidak. Ini adalah pengalaman persinggungan dengan yang transenden yang bisa membawa sensasi seperti diungkapkan dalam opening scene film Patch Adams tadi: how small you can feel.

Ini bukan rasa kecil sebagaimana dirumuskan dalam psikologi, melainkan sensasi yang muncul karena ketidakberdayaan, keterbatasan, kekecilan di hadapan dahsyatnya semesta, besarnya ‘instansi’ yang memungkinkan semesta ini berjalan. Orang beragama menyebutnya Tuhan, Allah, Dewa, Sang Pencipta, dan sebagainya. Entah orang ateis menyebutnya apa: keterlemparan, takdir, kebetulan, atau apa deh saya tak tahu. Pun kalau orang ateis percaya pada ‘keterlemparan’ tadi, dalam hidupnya ia berhadapan dengan ‘keterlemparan’ itu dan pada saat itu bisa jadi ia mengalami sensasi how small you can feel tadi. 

Sayangnya, entah beragama atau tidak, orang dewasa kerapkali kurang peka terhadap sensasi seperti itu dan karena itu pengalaman religius ‘terlewatkan’ dan mulailah ia membentengi dirinya dengan aneka rasionalisasi dan argumentasi yang menempatkan dirinya sebagai pusat acuan kehidupan ini. Bagi orang yang percaya kepada Tuhan, pengalaman religius ini lebih ‘mudah’ dilihat: pengalaman selamat dari marabahaya, mukjizat, misalnya. Pengandaiannya, orang menempatkan diri seperti anak-anak yang tahu diri bahwa ada sosok lain yang lebih besar dari dirinya.

Ya Tuhan, mohon rahmat kerendahan hati supaya kami boleh mengalami perjumpaan dengan-Mu dalam aneka peristiwa hidup. Amin.


SABTU BIASA VII A/1
25 Februari 2017

Sir 17,1-15
Mrk 10,13-16

Posting Tahun C/2 2016: Abis Nangis Ketawa
Posting Tahun A/2 2014: Dio, dammi la mano

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s