Occupied

Mungkin Anda pernah baca kata occupied di pintu toilet publik, yang berarti toiletnya sedang dipakai orang yang ada di dalam, atau mungkin indikator vacant-occupiednya sedang rusak. Bahasa Indonesia menyerap kata occupation yang berarti antara lain pendudukan dan penguasaan suatu daerah oleh tentara asing, tetapi belum menyerap kata preoccupation. Apa kiranya preoccupation itu?

Taruhlah orang menonton performance dengan tiket tanpa nomor tempat duduk. Ke gereja misalnya, eaaa…. daripada gak dapat tempat duduk, daripada mesti duduk menunggu setengah jam atau satu jam, mendingan suruh pembantu aja duduk di bangku untuk tiga orang dengan menaruh tas di sebelah kiri kanannya. Occupied toh. Orang bakal tahu bahwa dua tempat duduk di kiri kanannya dah ada yang ‘punya’. Yang duduk pembantunya, juragannya cari tempat parkir atau malah jalan-jalan dulu di mal. Gile… sampai hati juga ya orang beribadat ke gereja dengan model nonton pertunjukan gitu? Ya sampailah! Gak baca blog ini soalnya, atau ya orangnya bebal. Tapi entah bagaimanapun sebutannya, orang yang melakukannya itu bisa jadi preoccupied. Lha apa itu preoccupied?

Ya itu tadi: okupasi yang dilakukan sebelum orang lain mengokupasinya. Orang khawatir kalau-kalau nanti keduluan orang lain. Nah, mungkin kata khawatir itu lebih mudah dipakai untuk mengerti praokupasi tadi. Tak usah bertele-tele deh, memang kata itu yang enam kali nongol dalam teks Matius hari ini. Kata tetangga saya yang kerja di danau Genezaret sana, dalam bahasa biblis atau Kitab Suci, angka enam itu angka manusiawi, angka kerapuhan, ketidaksempurnaan. Saya percaya aja deh. Pokoknya, itu berguna untuk merefleksikan bagaimana kita beriman: kekhawatiran berbanding terbalik dengan kepasrahan iman.

Biasanya orang akan berdalih untuk membuat planning, tetapi bukan itu yang disasar Yesus (seolah-olah ia menentang rencana hidup orang, kalkulasi ke depan, dan sejenisnya). Sejauh diperlukan, orang tentu mesti membuat kalkulasi ke depan, tetapi kalkulasi itu tidak perlu diokupasi oleh kekhawatiran (seolah-olah Tuhan abai terhadap manusia). Di sini, mungkin ada baiknya orang mencoba membandingkan perencanaan yang diokupasi oleh kekhawatiran dan perencanaan yang detach dari aneka kelekatan. Tak perlu penelitian ilmiah, saya yakin, planning yang terbebaskan dari kekhawatiran lebih meringankan orang, membahagiakan orang, memantapkan orang, dan tentunya lebih mengantarkan orang pada iman yang lebih dalam.

Orang beriman, yang terokupasi oleh Allah yang hidup, ironisnya, malah punya kemampuan untuk fokus pada apa yang ada di sini dan kini. Ia bukannya tidak memikirkan masa lalu dan masa depan, tetapi pikiran masa lalu dan masa depan itu tak mencabutnya dari hidup nyata hic et nunc (di sini dan kini). Ia bisa enjoy saat bermain, ia happy dalam pekerjaannya, ia mengalami konsolasi saat kesedihan melanda. Bandingkanlah orang-orang yang mengalami disorientasi, gagal fokus: waktunya kerja malah main-main, waktunya main-main malah kerja, waktunya tidur malah lembur, waktunya lembur malah tidur. Artinya, benar-benar diduduki atau dikuasai oleh ‘tentara’ asing, bukan Allah yang sudah sejak lama bersemayam dalam hati orang.

Ya Tuhan, bantulah kami supaya pertama-tama mencari kehendak-Mu dan membiarkan hal-hal lainnya terjadi seturut kehendak-Mu. Amin.


MINGGU BIASA VIII A/1
26 Februari 2017

Yes 49,14-15
1Kor 4,1-5
Mat 6,24-34

Posting Tahun A/2 2014: The Kingdom of Heaven, Upside Down Pyramid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s