Kurang Satu Ons Doang

Ini sharing pengalaman orang bego’ dari Frankfurt ke Amsterdam dengan naik kereta api, tanpa bekal smartphone dan alamat serta telpon kawan yang hendak menjemput saya di stasiun. Komunikasi terakhir hanya via surat elektronik: dia akan jemput di stasiun. Saya ini besar di kota yang Mass Rapid Transit-nya belum jadi, dan terbiasa dengan durasi perjalanan kereta yang bersifat cincailah. Maka, ketika kereta berhenti di stasiun yang bertulisan Amsterdam dan banyak orang keluar dari gerbong, saya melihat tiket saya. Memang tertera pada tiket bahwa waktu kedatangannya 9.28. Waktu itu 9.25.

Saya turun dari gerbong tetapi segera bertanya kepada orang yang sedang duduk di platform  sembari menunjukkan tiket saya, apakah memang ini stasiun tujuan saya. Tiba-tiba orang itu berteriak,”Bukan, cepat kembali masuk kereta!” dan mak dheg saya terburu-buru mengucapkan terima kasih dan lari mencari sembarang pintu gerbong yang masih terbuka. Begitu saya masuk, pintu tertutup dan kereta bergerak perlahan, eaaaaa….. menyenangkan. Tepat jam 9.28 kereta berhenti lagi dan saya baca lagi tulisan besar Amsterdam Centraal. Syukur kepada Allah… Andaikan saya tidak kembali masuk kereta jam 9.25 tadi dan saya cuma bisa clingak-clinguk di stasiun dan kawan saya juga clingak-clinguk di stasiun lain… entah apa jadinya.

Teks bacaan hari ini bicara mengenai seseorang yang tergopoh-gopoh mengejar Yesus dan bertanya soal apa yang mesti dibuatnya supaya memperoleh hidup kekal. Menarik. Orang kaya ini sudah memenuhi seluruh perintah agama, tetapi masih merasa kurang satu ons doang untuk mendapatkan hidup kekal itu.

Mirip dengan itu, saya sudah berada di kereta dan track yang benar, tetapi karena saya tak punya ‘roh’ sistem perkeretaapian di Belanda itu, saya mengalami kebimbangan: tulisan stasiunnya Amsterdam tetapi waktu menunjukkan pukul 9.25. Saya tak berpikir bahwa waktu bisa dijadikan patokan kedatangan di stasiun. Di kepala saya waktu itu, jam 9.25 dan 9.28 itu cincailah. Tetapi jebulnya tiga menit itu berarti sekali. Saya takkan mengalami kebimbangan dan keluar kereta lalu bertanya kepada orang jika sewaktu di dalam kereta saya bertanya kepada kondektur di stasiun mana saya mesti turun. Tapi ya sudahlah, pokoknya saya nyaris tersesat.

Orang yang bertanya kepada Yesus itu sebetulnya sudah ada dalam jalur yang benar: ia memenuhi seluruh perintah agama. Sayangnya, ia belum mempunyai ‘roh’ dari perintah agama yang dijalankannya itu, sebagaimana saya gak ngerti bahwa 9.28 tiba di stasiun tujuan itu berarti memang 9.28, bukan 9.25. Kasus saya tentunya lebih sepele, bahkan kalau memang saya tersesat, “tinggal” beli tiket pulang ke Frankfurt dan Roma, dan mungkin kawan saya akan kebingungan setengah mati.

Kasus orang yang bertanya kepada Yesus ini lebih mendalam dan rupanya ia tak bisa menyelesaikannya. Ia sudah ada di track yang benar, kurang sedikit saja ia tiba, sudah diberitahu juga kurang sedikitnya itu apa, tetapi tak sanggup ia meraihnya. Kenapa? Karena ia punya attachment terhadap apa yang dibawanya, dicapainya, prestasinya, usahanya, dan seterusnya. Tak ada enlightenment yang muncul karena attachment terhadap hal-hal yang sifatnya contingent, sementara, bisa ada bisa tak ada.

Ya Allah, mohon rahmat untuk senantiasa mengikuti gerak Roh-Mu. Amin.


SENIN BIASA VIII A/1
27 Februari 2017

Sir 17,24-29
Mrk 10,17-27

Posting Tahun C/2 2016: Cinta Absensi
Posting
Tahun B/1 2015: Lebay sama Hukum
*
Posting Tahun A/2 2014: Go Out Of The Box

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s