Manusia Sampah

Andaikan saja plastik itu bisa senantiasa mudah didaur ulang, tentu tak ada problem sampah di dunia ini. Itu juga kalau produksi plastik tak heboh-heboh amat. Konon, sampai sekitar satu dekade lalu, produksi plastik dunia mencapai 280 juta ton. Satu ons sampah masih bisa saya bayangkan, tetapi satu juta ton… hmmm, satu ons sampah di kepala saja sudah bikin puyeng, gimana 280 juta ton ya? Ya itulah persoalannya: 280 juta ton sampah plastik itu tidak bisa diminta supaya bermetamorfosis jadi tiramisu atau es grim! Dia tetap tinggal sebagai plastik yang berstatus sampah!

Kenapa dia tak bisa bermetamorfosis? Barangkali karena orang-orang di dunia ini semuanya sampah sudah sejak dalam pikirannya. Yang dipikirkan sampah, yang diproduksi sampah, yang diperjuangkan sampah, yang dikampanyekan sampah, yang dipilih sampah, yang dimakan sampah, refleksi hariannya ya sampah! Wis pokoknya sampah semuanya deh lha wong judulnya aja ‘manusia sampah’ kok.

Teks hari ini juga menyodorkan pertanyaan implisit yang punya karakter sampah tadi: muncul karena pikiran sampah yang susah didaur ulang. Para murid mengerti dialog antara orang yang baru saja ngeloyor pergi meninggalkan Yesus setelah tahu bahwa satu ons untuk menggenapi hidup kekal itu adalah melepaskan segala milik kepunyaannya demi orang-orang yang membutuhkannya dan mengikuti Yesus. Mereka menangkap bahwa untuk mengalami kebahagiaan kekal, orang mesti membebaskan diri dari kelekatan terhadap harta kekayaan.

Meskipun demikian, mereka lupa bahwa harta kekayaan itu tidak cuma identik dengan harta tak bergerak dan harta bergerak itu juga bukan cuma mesin atau kendaraan. Pola pikir ‘bukan cuma’ atau ‘tidak hanya’ itu barangkali penting untuk menghindarkan sampah di kepala orang. Bukan cuma karena melepaskan harta njuk orang happy. Bukan hanya karena beragama lantas orang masuk surga. Bukan cuma karena mengaku murid nabi ABC njuk orang dijamin selamat. 

Pada kenyataannya, begitu orang terfiksasi pada “hanya dengan” begini atau begitu, ia ada dalam bahaya untuk jadi manusia sampah. Manusia rohani terfiksasi pada tujuan, bukan pada sarana. Lha, barang ciptaan di dunia ini bukanlah tujuan sehingga tak bisa disikapi dengan pola pikir “hanya dengan” tadi. Ciptaan di dunia ini paling membantu orang saat dihadapi dengan kesigapan untuk move on karena mereka come and go. Manusia sampah membuat waduk untuk yang come tetapi tak mau let it go. Malah jadi sampah yang tak bisa didaur ulang.

Ya Tuhan, mohon rahmat kebesaran jiwa dan kelapangan hati untuk membiarkan Roh-Mu terus bekerja dalam hidup kami. Amin.


SELASA MASA BIASA VIII A/1
28 Februari 2017

Sir 35,1-12
Mrk 10,28-31

Posting Tahun C/2 2016: Kirik nan Suci
Posting Tahun B/1 2015: Apa Upahnya? *
Posting Tahun A/2 2014:
Sense of Security

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s