Come back to me

Kembalilah padaku, Tuhan, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu… Lesu karena aku mengeluh, setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.

Ini adalah ayat kesukaan saya dalam masa desolasi. Tentu maksudnya bukan meminta Tuhan kembali, melainkan sayalah yang kembali kepada-Nya, tetapi ini bukan lagi soal logika subjek-objek, melainkan soal hidup dalam frekuensi yang sama dengan frekuensi Allah sendiri. Seperti apa ya?

Barangkali orang bisa mengingat kembali bagaimana pada masa jatuh cinta (maaf ya kalau tak punya masa seperti itu, bukan maksud saya ngiming-imingi). Atau biar lebih netral saya ambil contoh tim sepak bola deh. Ada sebelas pemain bola tetapi ada pemain keduabelas yang disebut tifosi. Kehadiran tifosi memberi kekuatan psikis para pemain untuk mengeluarkan permainan terbaik mereka. Bayangkanlah pemain badminton yang kurang semangat bertanding dan tertinggal jauh dari lawannya, tetapi saat ia melihat orang pujaannya datang, ia bisa tiba-tiba agresif dan menang. Itu sangat manusiawi dan wajar, bukan?

Meskipun demikian, teks hari ini memberi catatan: mbok gak usah menjalankan kewajiban agama supaya dilihat orang karena kalau begitu, kamu dapat upah dari para tifosi tetapi tidak dari Allah di surga. Lha gimana to, yang namanya menjalankan kewajiban agama ya pasti dilihat orang lain dongwong agama itu ya lembaga sosial juga. Betul. Sebagian orang tahu bahwa hari ini umat Katolik memulai masa pantang dan puasa sebelum Paska. Itu berarti apa yang dilakukan umat Katolik ya diketahui orang lain dong. Iya betul. Akan tetapi, teks hari ini memberikan anjuran supaya pengetahuan orang lain itu tidak dijadikan motif dalam menjalankan pertobatan. Kalau ‘menjalankan kewajiban agama’ itu diberi landasan supaya dilihat orang, itu seperti pemain badminton tadi: permainan maksimalnya bersyarat. Cintanya bersyarat, dan cinta bersyarat itu mungkin indah, tetapi tak seindah unconditional love.

Nota bene: kalau kewajiban agama itu dilandasi motif hidup di hadapan manusia tadi, tanpa sadar sebetulnya orang menista agama, mereduksinya sebagai lembaga sosial belaka sehingga motivasi dalam beragamanya juga semata bersifat horisontal, tidak masuk dalam ranah hidup orang beriman. Kalau memang orang beragama mau hidup wajar dengan frekuensi manusiawi, itu perlu diletakkan sebagai dampak atau konsekuensi dari frekuensi ilahi tadi, bukan sebagai motivasi. 

Ayat kesukaan saya di atas hanyalah salah satu contoh tuner supaya orang masuk dalam frekuensi ilahi. Doa, puasa, dan tindakan karitatif, jika tak digerakkan oleh Roh yang hidup dalam ayat seperti itu, kiranya cenderung mencari pujian manusiawi. Buahnya tak senikmat tindakan yang muncul karena orang rindu pada Kekasih Jiwanya.

Tuhan, kembalilah padaku juga dalam hiruk pikuk hidupku yang mungkin bisa jadi skandal bagi-Mu. Amin.


HARI RABU ABU
1 Maret 2017

Yl 2,12-18
2Kor 5,20-6,2
Mat 6,1-6.16-18

Posting 2016: Tobat, Bos! 
Posting
2015: Grow up, Brow!

Posting 2014: Solidarity with The Father

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s