Susahnya Hidup ‘Untung’

Banyak orang mengira pendorong orang untuk masuk dalam gerakan radikal agama adalah faktor ekonomi dan pendidikan formal. Logikanya, orang kere kalau disuruh memilih antara mati sia-sia dan mati dengan imbalan sebagai martir atau jihad tentu saja pilih mati sebagai martir. Orang bodoh mudah dimanipulasi dengan prasangka dan takhayul, gampang diindoktrinasi. Mereka ini jadi sasaran empuk kelompok ekstremis religius.

Perkiraan itu dibantah pengamat ahli gerakan radikal yang bisa dilihat pada link ini. Kebanyakan mereka yang direkrut kelompok ekstremis religius justru adalah orang yang well-fed dan well-red. Yang mengesankan dari pengamatan ahli gerakan radikal ini ialah kejeliannya menelusur akar persoalan di balik faktor ekonomi dan pendidikan. Mengesankan karena klop dengan proyek perkuliahan saya, eaaaa…. ada kepentingan ‘pribadi’ rupanya.

Kalau orang miskin memilih mati sebagai martir daripada mati sebagai orang miskin ‘biasa’, tentu kemartiran itu punya nilai lebih dong. Artinya, orang memilih sesuatu yang dianggapnya lebih berarti, bermakna. Apakah maknanya autentik atau semu, itu lain perkara. Yang penting, desire for meaning itu mendorong orang bahkan berani mati untuk memperjuangkannya. Ini adalah poin pokok yang menjelaskan mengapa orang, entah kaya atau miskin, entah berpendidikan formal tinggi atau putus sekolah, bisa masuk dalam gerakan radikalisme agama.

Itu klop dengan apa yang disodorkan bacaan pertama hari ini. Tuhan menyodorkan dua alternatif: hidup ‘untung’ dan mati ‘celaka’. Tuhan sih menyarankan supaya orang hidup ‘untung’ itu, yaitu mengasihi Tuhan, hidup menurut jalan-Nya, menaati perintah-Nya dan sejenisnyalah. Akan tetapi, pada kenyataannya, lebih banyak orang yang memilih mati ‘celaka’. Kenapa orang memilih mati ‘celaka’? Karena, diterangkan dalam bacaan kedua, hidup ‘untung’ itu justru berarti menyangkal diri, tidak cari jalan pintas, menanggung kerepotan atau keribetan. Sungguh menderita. Lha wong hidup ‘untung’ kok malah repot dan menderita, ha yo wegah! Lebih gampang tembak di tempat atau beli panci dan merakit bom dan mati saja sebagai martir!

Itu mengapa meskipun sama-sama mencari makna, kaum bersumbu pendek atau ekstremis religius itu tersesat jalannya, karena maknanya semu alias palsu. Klaimnya tentu mengasihi Allah, tetapi sebetulnya yang dihayatinya adalah memperjuangkan kepentingan egoistiknya sendiri (cari selamat seturut ideologi hasil indoktrinasi yang diterimanya). Klaimnya membela agama, tetapi di balik topeng itu adalah berhala-berhala yang dipeliharanya berupa harta, kuasa, dan ‘wanita’ (maafkan saya pegiat feminisme, saya mengeksklusi perempuan dari pelaku ekstremis religius). Maknanya palsu.

Mengapa palsu? Karena orientasinya egoistik, tertutup, eksklusif. Maksud saya, demi ideologi cinta kepada Tuhan, orang hendak mengorbankan lebih banyak orang lain. Bayangkanlah Hitler yang hendak membuat tatanan baru dengan cara membasmi orang Yahudi seolah-olah kalau tak ada orang Yahudi lagi dunia ini akan jadi tertata lebih baik. Gombal amoh, bukan? Maklum, sejak kecil orang dijejali nasihat moral lebih daripada diajari untuk menggali makna kehidupan (yang sudah dari sononya beragam), melihat kenyataan secara tulus, menangkal hoax dari takhayul-takhayul agama.

Tuhan, ajarilah kami mengerti makna hidup ‘untung’ yang sesungguhnya dan mohon keberanian menyangkal diri untuk menghidupnya. Amin.


KAMIS SESUDAH RABU ABU
2 Maret 2017

Ul 30,15-20
Luk 9,22-25

Posting 2016: Paha(la) Bidadari?
Posting 2015: Gong Xi Fa Cai

Posting 2014: Animus cujusque is est quisque

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s