Mengemis Surga

Jangan mengandalkan kekayaanmu dan jangan berkata “Ini cukup bagiku”. Begitu kata teks bacaan hari ini. Apakah itu maksudnya supaya orang terus mengumpulkan kekayaan karena kekayaannya tak akan pernah cukup?
Tentu tidak, karena tolok ukurnya sudah tertera di situ: orang tidak boleh mengandalkan kekayaannya, berapa pun tumpukannya, berapa juga luas lahannya. Dengan demikian, terus menerus mengumpulkan kekayaan malah bisa jadi identik dengan mengandalkan kekayaan. Orang macam begini seakan mengemis sesuatu dari kekayaan, dan bisa dipastikan kekayaan tidak akan memberinya apa-apa. Di sini, Anda bisa ingat pepatah made in China yang beberapa waktu lalu saya tayangkan lagi pada posting Tidak Saling Uninstall.

Pada akhir abad lalu terbit sebuah buku berjudul Jacques et Raïssa Maritain: les mendiants du ciel. Saya belum pernah membacanya tetapi judulnya saya kira menggambarkan isinya (tidak seperti kebanyakan judul posting pada blog ini, eaaaaa). Dugaan saya, ini adalah biografi pasutri Jacques-Raïssa sebagai para pengemis surga. Sebuah review terhadap tulisan Jean-Luc Barré tersebut menuliskan begini: It is a theology summed up best in Maritain’s own words about his wife: ‘And during all that time she was being destroyed, as if by the blows of an axe, by a God who loved her in His terrible way and whose love is ‘‘gentle’’ only in the eyes of the saints or those who do not know what they are talking about.’

Supaya Anda tidak repot membuka-buka browser, ini saya salin tempelkan terjemahan dari Google Translate: Ini adalah teologi yang diringkaskan dengan paling baik dalam kata-kata Maritain sendiri tentang istrinya: “Dan selama waktu itu dia dihancurkan, seolah-olah oleh pukulan kapak, oleh Tuhan yang mencintainya dengan cara-Nya yang mengerikan dan yang cintanya adalah” ‘lembut’ ‘hanya di mata orang-orang kudus atau mereka yang tidak tahu apa yang mereka bicarakan.’

Orang beriman, yang senantiasa menjalani hidup recehnya sebagai manifestasi peziarahan batin, mengemis surga bukan dengan doktrin agama yang bisa memecah belah, melainkan dengan keterlibatan dalam hidup yang bisa jadi menampakkan cinta Allah yang sebetulnya ‘mengerikan’ dan terasa lembut jika yang bersangkutan adalah orang suci, atau yang tidak tahu apa yang diomongkannya.
Saya tidak terbilang orang kudus. Jadi, sebenarnya saya tidak tahu apa yang sedang saya omongkan, tetapi justru karena itulah saya boleh mengatakan bahwa Cinta Allah itu ‘lembut’, meskipun hidup orang bisa jadi babak belur.

Memang pada kenyataannya entah orang mengemis surga atau mengemis kekayaan, ia bisa babak belur. Akan tetapi, orang mengemis kekayaan bisa babak belur lahir batin karena dimensi lahiriahnya bisa menghalalkan segala cara untuk mengejar kekayaan dan kroni-kroninya. Mengemis surga kenal halal-haram, bukan dalam arti lahiriah, melainkan dalam arti batiniah: ia menyesuaikan hidupnya dengan pergumulan jiwanya. 

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami sungguh setia sebagai pengemis cinta-Mu. Amin.


KAMIS BIASA VII C/1
28 Februari 2019

Sir 5,1-8
Mrk 9,41-50

Posting Tahun A/1 2017: Tajam ke Luar Doang
Posting Tahun C/2 2016: Untung Miskin

Posting
Tahun A/2 2014: Living Sacrifice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s