Anda Waras Tanda Tanya

Memang benarlah ketidakseimbangan yang melanda dunia dewasa ini berhubungan dengan ketidakseimbangan lebih mendasar, yang berakar dalam hati manusia. Sebab dalam diri manusia sendiri pelbagai unsur sering berlawanan. Sebab di satu pihak, sebagai makhluk, ia mengalami keterbatasan dalam banyak hal; tetapi di lain pihak ia merasa diri tak terbatas dalam keinginan-keinginannya, dan dipanggil untuk kehidupan yang lebih luhur. Menghadapi banyak hal yang serba menarik, ia terus menerus terpaksa memilih diantaranya dan melepaskan beberapa hal lainnya. Bahkan sebagai manusia lemah dan pendosa, ia tidak jarang melakukan apa yang tidak di kehendakinya, dan tidak menjalankan apa yang sebenarnya ingin dilakukannya.

Begitulah cuplikan dokumen Konsili Vatikan II yang berjudul Gaudium et Spes (Kegembiraan dan Harapan) artikel 10 dan itulah yang saya pakai untuk membaca teks hari ini. Cukup mengherankan bagi saya, beberapa pasangan calon pengantin mengambil teks bacaan hari ini sebagai bacaan dalam ibadat perkawinan mereka. Kenapa mengherankan? Karena problem yang disodorkan di situ adalah perceraian. Lha nek mau married malah ujug-ujug omong perceraian apa ya gak lucu sih? Baru mau mulai married sudah mikir soal cerai…
Lha ya bukan gitu, Rom, kan bacaan itu menegaskan kuatnya ikatan perkawinan, jadi ambil aja pesan pokoknya: yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia.
Oh, gitu ya? Ya sudah deh, no comment. Saya lanjutkan saja perspektif dokumen Gaudium et Spes tadi.

Ironi yang disodorkan dalam dokumen tersebut sebetulnya sudah dibahas oleh Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma: bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan. Ada kekuatan dalam diri manusia yang membuatnya bisa mengalami paradoks. Semakin ingin jadi baik, tetapi kelakuannya malah bertolak belakang. Itulah juga yang disampaikan Guru dari Nazareth kepada orang-orang Farisi yang hendak mengujinya dengan kasus perceraian. Sebetulnya secara tidak langsung mereka hendak mengonfrontasikan Guru dari Nazareth itu dengan hukum Musa, tetapi Guru itu malah secara langsung membidik mereka dengan substansi hukum Musa itu sendiri.

Pertanyaan orang Farisi itu sebetulnya cukup dijawab “boleh” atau “tidak boleh” dan jawaban apa pun akan bisa dikonfrontasikan dengan hukum Musa. Akan tetapi, Guru dari Nazareth malah bertanya balik mengenai apa yang dikatakan hukum Musa dan mereka dengan antusias menjawab bahwa hukum Musa memperbolehkannya. Setelah itulah Sang Guru membongkar topeng mereka, yang hendak bersembunyi di balik netralitas hukum Musa. Bukan hukum Musanya sendiri yang disinggung, melainkan kedegilan hati mereka yang memakai hukum Musa, sebagaimana kedegilan hati orang-orang lainnya yang bersembunyi di balik kampanye manis menjelang pemilihan umum.

Memang mengerikan jika orang menempatkan dirinya sebagai penjamin hukum tanpa supervisi, review, audit, kontrol dari pihak lain: orang cenderung memahami hukum seturut kepentingan egonya, dan ini bisa jadi mimpi buruk bagi kemanusiaan. Orang beriman mesti rajin-rajin memeriksa kewarasan berpikirnya dan bertindak berdasarkan kewarasan yang teruji. Kalau tidak, cara pikirnya akan ditentukan oleh cara berperilakunya, yang bisa jadi korup karena kurang satu strip itu.

Tuhan, mohon rahmat supaya hati kami tak degil. Amin.


JUMAT BIASA VII C/1
1 Maret 2019

Sir 6,5-17
Mrk 10,1-12

Posting Tahun A/1 2017: Sahabat Setia
Posting Tahun
C/2 2016: Coba Suspensi Ah
Posting Tahun A/2 2014: Being Patient, Being A Patient

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s