Hati Tanpa Bias

Apakah di benak Anda ketika mendengar kata “anak-anak” sudah ada perbedaan seks dan gender? Kalau sudah ada, barangkali Anda layak jadi muridnya Guru dari Nazareth yang dalam teks bacaan hari ini dimarahi Sang Guru karena mereka menegur orang-orang yang membawa anak-anak mereka untuk minta berkat pada Sang Guru. Bingung gak sih? Makanya, ikuti petunjuk guru mengarang: buatlah tulisan dengan kalimat tunggal, biar lebih mudah dicerna. Oh iya ya. Jadi ceritanya gini. Beberapa orang tua membawa anak-anak mereka untuk diberkati Guru dari Nazareth. Entah kena apa, para murid menegur orang tua anak-anak itu. Akan tetapi, Guru dari Nazareth malah tidak senang dengan polah para muridnya.
Ya, itu jelas, Rom, tapi kenapa layak jadi murid Guru dari Nazareth mesti dikait-kaitkan dengan benak perbedaan seks dan gender tadi?

Oh, sebentar, jangan ge er dulu. Frase yang saya sodorkan itu panjang: Anda layak jadi murid yang dimarahi Sang Guru! Kenapa? Karena kalau Anda menghubung-hubungkan kemuridan dengan perbedaan seks dan gender, “anak-anak” pun bisa jadi korban.
Dalam narasi teksnya sendiri “anak-anak” itu memang tidak jadi pemeran utama. Mereka jadi pemain figuran yang hendak dibawa masuk dalam adegan penting oleh orang tua mereka, tetapi murid-murid itu malah menegur mereka. Tentu supaya mereka tidak masuk dalam adegan penting. Akan tetapi, Guru dari Nazareth tidak menyetujui tindakan para muridnya. Ia justru menegaskan bahwa orang seperti “anak-anak” itulah yang pantas menyambut Kerajaan Allah.

Sik, sik, Rom, tetap belum mengerti apa hubungannya dengan perbedaan seks dan gender.
Perbedaan seks dan gender yang dilekatkan kepada “anak-anak” itu menempatkan “anak-anak” dalam kategori power relation. Para murid, yang semuanya laki-laki, dan hidup dalam kultur patriarki, menunjukkan diri sebagai pihak yang punya kuasa untuk melakukan screening boleh tidaknya orang datang kepada guru mereka. Lha, yang datang kepada Guru dari Nazareth itu tentu beragam orang dengan segala kepentingannya. Nah, kalau kepentingan orang membawa “anak-anak” supaya diberkati Guru, di mana salahnya “anak-anak” itu, bahkan kalau orang yang membawanya adalah koruptor? Bukankah “anak-anak” itu belum punya ‘peran’ dalam hidup sosial mereka? Bukankah mereka tidak kenal “laki-laki tak boleh menangis” atau “perempuan harus jago masak” kalau tidak dicekoki oleh orang dewasa yang memelihara bias gender? Lalu kenapa “anak-anak” macam begini mesti dikorbankan, tidak boleh menerima berkat dari Guru, oleh orang yang memelihara power relation?

Adegan pentingnya tetap terjadi karena Guru dari Nazareth menyingkirkan power relation. Kalau orang mau masuk ke dalam Kerajaan Allah, ia mesti mengabaikan power relation. Hanya orang yang seperti “anak-anak” itulah yang layak masuk: reseptif terhadap berkat Tuhan, bagaimana juga perwujudannya. Orang dewasa yang keukeuh dengan bias seks dan gendernya akan sulit jadi reseptif, persis karena sudah ngotot dengan benaknya sendiri yang memandang hidup dan orang-orang di sekelilingnya dengan perspektif seks dan gender. Itu mengapa orang dewasa bisa jadi predator anak-anak, yang pada dasarnya reseptif; dan wajarlah Guru dari Nazareth marah besar terhadap kepredatoran itu.

Ya Allah, berilah kami hati yang terbuka, reseptif terhadap kehendak-Mu semata. Amin.


SABTU BIASA VII C/1
2 Maret 2019

Sir 17,1-15
Mrk 10,13-16

Posting Tahun A/1 2017: How small U can feel
Posting Tahun C/2 2016: Abis Nangis Ketawa

Posting Tahun A/2 2014: Dio, dammi la mano

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s