Doyan Kefir?

Kakak kelas saya punya cadangan nama favorit yang kalau sewaktu-waktu diminta jemaatnya akan diberikannya untuk menamai bayi yang baru lahir. Luka Firda. Bisa dipanggil: lukafir. Wacana itu dilontarkannya setelah beberapa waktu lalu muncul usulan supaya sebutan kafir bagi nonmuslim di Indonesia dihapuskan.
Saya tak hendak masuk ke wacana itu, meskipun sebagai nonmuslim di Indonesia saya bisa diberi label kafir juga. Akan tetapi, perkara pemberian label kafir terhadap nonmuslim kan bukan urusan saya. Lagian, dalam banyak hal, pemberian label tidak menunjukkan kualitas objek yang diberi label, melainkan kualitas pemberi labelnya sendiri. Anda masih ingat, bukan, when you judge others, you do not define them, you define yourself?

Maka dari itu, wacana usulan penghapusan label kafir terhadap nonmuslim di Indonesia saya tangkap secara positif sebagai proses saudara-saudari Muslim di Indonesia untuk mendefinisikan diri mereka sendiri. Nota bene: juga dalam Kitab Suci Kristen berbahasa Indonesia dipakai label kafir (Bil 23,9; Mat 5,22; Gal 2,14). Akan tetapi, nuansa kafir di situ tak terhubung dengan agama yang dimengerti seperti di Indonesia. Itu lebih berkenaan dengan cara hidup Yahudi: yang tidak mengikuti cara Yahudi disebut kafir. Dalam Injil Matius menyebut kafir itu dinilai negatif: “Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya “Kafir!” harus dihadapkan ke Mahkamah Agama…” Artinya, kafir tak bisa dilekatkan pada saudara.
Nah, itulah masalahnya, Rom, di sini ‘saudara’ itu sudah dikawinkan dengan ‘agama’, sehingga yang berbeda agamanya tak bisa disebut saudara, dan akibatnya wajarlah mereka disebut kafir.
Hehehe, iya ya, tapi tadi saya sudah bilang tak akan masuk ke wacana itu.

Saya akan mengikuti nasihat Injil hari ini saja,”Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu ‘Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu’ padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”
Apa balok di mata saya? Konsep kekristenan anonim. Ini wacana sejak sekitar lima puluh tahun lalu ketika Gereja Katolik mesti di satu sisi menjadi inklusif tetapi di lain sisi mesti mempertahankan keyakinan Kristus satu-satunya penyelamat.

Konsep itu mengganjal saya karena di dalamnya tersimpan arogansi Gereja Katolik: semua saja diselamatkan oleh Kristus seturut kadar agama masing-masing.
Weladalah, njuk kowe diam-diam mau mengatakan bahwa kadar penuh itu adanya di Gereja Katolik, gitu kan? Ha kok isa? Kriterianya apa, menurut siapa?
Loh, jadi Romo ini menentang ajaran Gereja Katolik ya?
Ha kok isa? Kriterianya apa, menurut siapa?

Ini soal tafsir, dan tafsir itu punya kepentingannya sendiri-sendiri. Saya memegang teguh tafsir yang kepentingannya adalah pemahaman diri yang lebih baik, lebih dalam, lebih luas. Maka, akan saya camkan kisah Augustinus yang menertawakan anak kecil yang hendak memindahkan air laut ke dalam lubang di pasir yang dibuatnya. Ketika Augustinus memberitahu anak itu bahwa tidak mungkinlah memindahkan air samudera ke lubang itu, si anak membalas: begitu juga tak mungkinlah engkau memasukkan seluruh misteri Allah itu ke dalam kepalamu. Mbok rendah hati sedikit napa!

Tuhan, mohon kelapangan hati untuk mencintai semua saja sebagai saudara. Amin.


MINGGU BIASA VIII C/1
3 Maret 2019

Sir 27,4-7
1Kor 15,54-58
Luk 6,39-45

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s