Tidak Saling Uninstall

Orang miskin berbahagia bukan karena kemiskinannya, melainkan karena kerja kerasnya. Orang kaya berbahagia bukan karena kekayaannya, melainkan karena kerja kerasnya. Jadi, orang yang kerja keras, entah miskin atau kaya, dia berbahagia. Begitulah rumusnya. Gampang ya? Gampang mbahmu…😂
Kalau orang bekerja keras dan dia tak berbahagia karena kerja kerasnya itu, ada yang salah dalam programming yang ada di kepalanya sendiri dan programming itu mungkin perlu diuninstall. Program itu bisa jadi ditata untuk mengharuskan kerja keras orang (miskin) menghasilkan kekayaan dan mewajibkan kerja keras orang (kaya) berpuas diri dengan penumpukan modalnya. Padahal, hidup ini memuat keping kegagalan dan kesuksesan dan orang tak mungkin bisa berpuas diri dengan satu keping.

Anda kiranya masih ingat pepatah made in China ini:
With money you can buy a house but not a home.
With money you can buy a clock but not time.
With money you can buy a bed but not sleep.
With money you can buy a book but not knowledge.
With money you can see a doctor but not good health.
With money you can buy a position but not respect.
With money you can buy blood but not life.
With money you can buy sex but not love.

Pernyataan dalam teks hari ini tidak ditujukan kepada sembarang orang miskin dengan mentalitas kerumunan, tetapi pada sekelompok orang tertentu yang ada dalam kerumunan itu. Maka, bunyinya bukan “Berbahagialah orang yang miskin karena bla bla bla” melainkan “Berbahagialah kamu yang miskin karena bla bla bla”. Siapakah ‘kamu’ itu? Yaitu yang memutuskan untuk mengambil jalan menuju Allah dan karenanya memperlakukan apa yang dipunyai atau tak dipunyainya sebagai sarana untuk mengambil jalan menuju Allah tadi.

Artinya, orang ini tidak ribet dengan konsep kepemilikan yang bisa menjerumuskannya pada apa saja yang mengikatnya sehingga terkuasai oleh aneka kepemilikan itu. Mohon maklum, ini tidak selalu soal duit, tetapi juga soal gengsi, harga diri, nama baik, dan semacamnya. Mau tahu contoh orang yang mencitrakan orang miskin yang berbahagia ini?

Bayangkanlah ada seorang presiden yang dalam keterbatasannya mengendorse enterpreneur muda untuk mengembangkan usahanya; dan katakanlah, pengusaha muda ini sebetulnya simpatisan lawan presidennya dan berkicaulah dia soal omong kosongnya dukungan pemerintah untuk pengembangan usaha seperti yang dilakukannya. Entah berpikir dulu atau tidak, frase yang dikicaukannya memang menyiratkan pergantian presiden, sehingga ramailah reaksi pendukung petahana sehingga uninstall jadi populer. Tibalah permintaan maaf supaya gerakan uninstall itu tak menjadi-jadi.

Orang miskin itu memaafkan, karena tak punya problem dengan ambisi pribadinya untuk jadi presiden. Ini pernah saya singgung dalam posting Siapa Butuh Dua Periode? Orang miskin, entah hartanya sedikit atau banyak, berfokus pada kepentingan bersama. Bisa ngeri kan kalau orang berposisi tinggi macam begini tak mau memberikan maaf dan malah menggerakkan pendukungnya (yang bisa jadi juga fanatik) untuk saling uninstall? Ia berhenti jadi miskin, dan tentu tak bahagia hidupnya.

Maklumlah. Orang miskin layak berbahagia bukan karena kemiskinannya, melainkan karena dalam kemiskinannya ia masih bisa melihat perspektif lain untuk tak kehilangan asa. Ia mampu read between the lines.

Semoga semakin banyak makhluk yang berbahagia. Amin.


HARI MINGGU PEKAN BIASA VI C/1
17 Februari 2019

Yer 17,5-8
1Kor 15,12.16-20
Luk 6,17.20-26

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s