Siapa Butuh Dua Periode?

Hidup rohani dan hidup cari aman tak berjalan bergandengan tangan. Tak perlulah orang beriman terobsesi pada gagasan mengenai keamanan, bahkan juga terhadap kepastian kesalehannya sendiri. Ya itu tadi, hidup rohani dan hidup pasti tak berjalan bersama. Itu bukan kata-kata saya loh, itu kata politikus yang saya rahasiakan namanya [soalnya saya sendiri memang lupa namanya]. Ia tak percaya bahwa pada masa sekarang ini ada cara untuk menyelamatkan jiwa seseorang selain dari mengatasi egoisme individu, keluarga, kasta, agama atau segmentasi lainnya.

Sejujurnya, ungkapan itu melayangkan imaji saya pada sosok Ahok. In recognition of Ahok. Saya tidak hendak mendewakannya sebagai manusia sempurna atau insan kamil atau Kristus atau apalah istilahnya. Bahkan, kalau kasus keluarganya tak diperhitungkan pun, Ahok tetaplah Ahok. Dia mah anaknya gitu. Ada momen dalam hidupnya ketika ia tak mencari aman dan secara sungguh-sungguh membaktikan dirinya untuk meningkatkan kualitas hidup semakin banyak orang.

Saya tidak hendak mengatakan bahwa gagasannya mengenai peningkatan kualitas hidup manusia adalah gagasan sempurna juga. Akan tetapi, memang bukan gagasannya yang saya soroti, melainkan bagaimana ia menghidupi keyakinan politikus yang namanya saya lupa tadi: kalo elu mau hidup rohani lu maju, targetnya jangan cari aman; begitu lu cari aman, hidup rohani lu mundur. Apa artinya hidup rohani mundur? Hidup konkretnya stagnan, gitu-gitu aja, tidak inspiratif, tak imajinatif, otak kiri doang kêpakè’.

Betul juga ya, pada taraf tertentu orang yang selalu cari aman itu hidupnya tak inspiratif. Mungkin imajinasinya hidup, tapi liar dan dikungkung oleh hitung-hitungan matematis untuk merealisasikan powernya. Haiya, ini cocok juga dengan teks bacaan hari ini: terang itu ada, tapi orang lebih suka gelap. Ya jelas toh, supaya sisi gelapnya tak kena OTT.

Sepertinya tak perlu penjabaran lebih lanjut, cukup mengingat Ahok, tetapi barangkali perlu mengambil langkah konkret untuk mendukung temannya yang dulu gubernur dan jadi presiden zaman now. Rasa saya dia punya karakter beda tetapi agenda pengabdiannya sama. Cuma apakah dia cari aman, saya tak bisa menilai. Mungkin iya, tetapi yang diamankannya barangkali bukan kepentingan diri, keluarga, kasta, agama, dan sebagainya tadi; minimal, menurut saya, dia nothing to lose dalam pengabdiannya. Ia tak butuh jadi presiden dua periode, bahkan satu periode pun mungkin juga tidak. Siapa yang butuh ya…

Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk keluar dari zona nyaman kami. Amin.


HARI RABU PASKA II
11 April 2018

Kis 5,17-26
Yoh 3,16-21

Posting 2017: Play Duit atau Play Do’i
Posting 2016: Komitmen Berhadiah

Posting 2015: Neraka Bukanlah Hukuman

Posting 2014: Habisi Gelap Terbitkan Terang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s