Melarisi Rompi Oranye

Bukan cuma kaos #2019GantiPresiden atau #2019GantiKalender atau #2019GantiWakilPresiden yang laku, melainkan juga rompi oranye. Yang terakhir saya tahu rompi itu dipakai seorang gubernur yang lantang bicara konon sukak marah-marah dalam sidak. Betapa tegasnya pemimpin macam ini, apalagi kalau agamanya juga eksplisit ditunjukkan, dan dapat dukungan mayoritas, pasti joss. Cuma memang sekarang ini kejossan gampang luntur oleh rompi oranye.

Sebetulnya bagus juga ya kesaktian rompi oranye, bisa membungkam sosok sangar yang jebulnya ya bak pagar makan tanaman. Semakin laris rompi oranye mestinya kita tak perlu malu, justru bangga, kalau perlu terus mengupayakan supaya rompi oranye itu laris. Lha ngapain malu, wong koruptor aja gak malu? Mempermalukan bangsa Indonesia? Iya, tapi yang mempermalukan bukan rompi oranye, melainkan koruptornya itu. Bisa jadi bukan mempermalukan bangsa saja, melainkan juga agama. Tapi sudahlah. 

Teks bacaan hari ini, lanjutan kemarin, masih menyinggung soal kelahiran kembali, yang tak dimengerti oleh Nikodemus. Si guru yang berdiskusi dengan Nikodemus itu berkomentar,”Kalau tentang yang duniawi aja kamu gak percaya, apalagi tentang yang surgawi, bukan?” 

Begitulah orang-orang yang melarisi rompi oranye tadi. Omongan tentang kelahiran kembali pasti gak masuk dalam benak, justru karena mereka tak pernah berpikir bahwa mengambil sesuatu yang semestinya jadi hak bersama itu benar-benar merugikan hidup bersama. Orang ini tak pernah berpikir bahwa kesenjangan pembangunan antara Jawa dan Indonesia bagian lainnya sekian puluh tahun itu terjadi karena hak bersama ditilêp beberapa (bisa ribuan, wong dari ratusan juta) oknum: oknum ini bisa presiden, gubernur, menteri, bupati, pemimpin agama, dan seterusnya.

Lha itu kan wacana tentang hal-hal duniawi, Son, makanya pemimpin agama juga masuk di situ (karena dia juga bisa jadi oknum korup, bahkan mungkin melibatkan kekerasan). Kalau wacana begitu saja kagak ngartigimana mau paham wacana surgawi, jal?  

Kelahiran kembali itu bisa dimengerti sebagai gerak dari-dalam-ke-luar. Tak peduli apapun agama Anda, Anda tak pernah belajar agama makjebret sendirian. Anda belajar dari orang lain, dari tradisi, dari Kitab Suci, dan seterusnya. Itu semua gerak dari-luar-ke-dalam. Contoh orang yang sampai tuanya mengandalkan gerak dari-luar-ke-dalam ya adalah pelaris rompi oranye tadi. Agama bagi orang ini cuma ikut-ikutan kata orang. Kalau dari halaman Misi Acak Adut, ini orang yang submisif atau agresif/eksklusif.  Tampilannya bisa bagus, kata-katanya juga bisa bijak, tetapi hidupnya acak adut karena Tuhan tak dibiarkannya masuk dalam kesadarannya.

Kelahiran kembali terjadi dalam diri orang yang hidup keagamaannya adalah gerak dari-dalam-ke-luar. Ini adalah orang yang otonom, mampu membuat sintesis bagi hidupnya dari aneka positionings yang ada dalam hati dan budinya. Ini orang yang punya integritas, bagaimanapun kondisi hidupnya. Ada contoh bagus untuk kelahiran kembali itu, suatu hidup surgawi, tetapi maaf ini saya dapatkan dari lingkungan Katolik (Di lingkungan agama lain pasti ada juga pengalaman seperti ini). Silakan baca sendiri ya pada link ini kalau mau. Ini kisah pemaknaan frase “Ini ibumu” dalam hidup seorang yang terluka parah sampai ia dapat menghayati moto fiat voluntas tua.

Ya Tuhan, mohon rahmat kekuatan supaya kami tidak terus menerus menggerus cinta-Mu dalam hidup duniawi kami. Amin.


HARI SELASA PASKA II
10 April 2018

Kis 4,32-37
Yoh 3,7-15

Posting 2016: Reklamasi… Dengan Ini…
Posting 2015: Real-Time Heaven 
Posting 2014: Kristenisasi Yang Nonsense

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s