#GantiKaosDong

Beberapa waktu yang lalu beredar kaos politik bertuliskan #2019GantiPresiden. Ada banyak desainnya, sekurang-kurangnya yang saya dapat dari Mbah Gugêl. Siapa sih presiden you know who itu? Kalau gak tau ya keterlaluan sih, tapi siapa tahu Anda tak tahu, ini saya kasih gambarnya:

Kalau dengan gambar itu Anda masih tak tahu juga, wis sakkarêpmulah…

Gerakan #2019GantiPresiden adalah gerakan yang sah, legal dan konstitusional, katanya. Ini gerakan demokratis yang pantas didukung bahkan meskipun presidennya sendiri menegaskan bahwa kaos gak bisa ganti presiden. Mungkin presiden lupa bahwa ini zaman post-truth, jenazah saja bisa memengaruhi suara pemilihan kepala daerah, juga kalau daerah itu bernama Indonesia. Maka dari itu, gerakan #2019GantiPresiden ini perlu dicermati baik-baik supaya orang Indonesia tak tertipu lagi oleh kepentingan politik kekuasaan. Lebih tepatnya lagi, tak tertipu oleh politik kekuasaan berkedok agama.

Saya ini rakyat biasa, usulnya biasa juga: mbok ganti kaos aja, jangan #2019GantiPresiden itu. Kenapa? Soalnya, selain itu jadi indikasi tidak kreatifnya reaksi terhadap gerakan #JokowiDuaPeriode (alias cuma ikut-ikutan kampanye dengan cara sablon kaos), gerakan itu rupanya diprakarsai oleh partai berbasis agama. Tahu sendiri kan kalau agama cawé-cawé dalam politik praktis dalam dunia plural ini? Kasihan agamanya, kasihan negara dan masyarakatnya juga, jadi bulan-bulanan kelompok orang bergelojoh kekuasaan yang memakai tameng agama tadi. 

Kalau menimba inspirasi dari teks bacaan hari ini sih, ganti presiden itu gak penting banget. Pasti ada waktunya presiden itu diganti, ha wong yang hampir jadi presiden seumur hidup saja nyatanya diganti, kan? Sekarang sudah ada aturan mainnya, maksimal dua periode. Jadi mengapa tidak biarkan saja Jokowi dua periode? Hahaha…

Lha iya justru itulah masalahnya, Romo bego‘, orang-orang partai you-know-what itu menilai dua periode tak pantas untuk Jokowi. Haiya boleh saja Anda menilai begitu, tetapi sekali lagi, kalau penilaiannya datang dari basis agama, itu seperti abad-abad gelap di Eropa dulu. Selain itu, Anda mesti menyiapkan orang yang membuktikan diri bersih untuk pelayanan atau pengabdian kepada negeri tercinta ini, yang belum tentu juga kalau masuk dalam kekuasaan tetap bersih.

Alih-alih ribut mengganti presiden, mengapa tidak memberikan kritik positif terhadap presiden sekarang ini supaya kinerjanya semakin joss untuk kemaslahatan manusia Indonesia dan dunia? Itu kiranya lebih klop dengan ‘dilahirkan dari air dan Roh’ daripada ganti presiden: presidennya sih tetep gapapa, tapi ditransformasi saja supaya pembangunan infrastrukturnya bisa diiringi revolusi mental seperti digembar-gemborkannya di awal. Lima tahun untuk mencapai kedua hal itu, yang sudah terlambat 30-an tahun, mungkin cuma Dilan yang bisa!

Konon, kata orang yang saya tak kenal, sebagian besar dari sosok manusia itu bersifat ‘amfibi’, bisa hidup dalam dua dunia. De facto hidup di dunia infrastruktur, tetapi dengan kapasitas untuk menggapai ‘dunia lain’ di balik infrastruktur itu: mental kebangsaan, sensitivitas terhadap kaum marjinal, pemeliharaan ekologi, hormat pada pluralitas hidup. Tanpa itu semua, hambok ganti presiden setahun sekali aja hanya bakal jadi ajang penjarahan orang bergelojoh kekuasaan dengan tameng agama tadi.

Tuhan, mohon rahmat kekuatan dan kreativitas untuk menemukan cara baru membangun bangsa ini. Amin.


HARI SENIN PASKA II
9 April 2018

Kis 4,23-31
Yoh 3,1-8

Posting 2017: Mencari Jalan Alternatif
Posting 2015: Lahir dari Loteng?
 
Posting 2014: Born to Be Alive

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s