Mau Jadi Jagoan?

Memang tidak begitu saja gampang menerima hilangnya orang-orang tercinta dari matra ruang-waktu. Teks bacaan hari ini, menurut ahli Kitab Suci bernama A. Gianto SJ (semoga saya tak diracun anggur karena menyebut nama beliau), menjelaskan mengapa guru dari Nazareth yang baru saja dimakamkan itu hilang dari situ, sekaligus mengapa para murid tak lagi merasa kehilangan dia. Mereka bahkan semakin merasakan kehadirannya. Ini agak mirip dengan ingatan akan orang-orang yang sudah mendahului tetapi tetap jadi bagian hidup kita. Ya tentu tidak mirip-mirip amat.

Bagi para murid, memupuk ingatan akan dia yang pernah berada bersama mereka di dunia ini bukan lagi hal yang penting. Dia bukan lagi sekadar kenangan mereka. Mereka malah merasa lebih menjadi bagian Yesus yang bangkit itu. Itulah persepsi mereka akan kebangkitan Yesus. Pengalaman ini mengubah kehidupan mereka dari yang dirundung ketakutan menjadi penuh kedamaian. Begitulah ide yang disampaikan ahli filologi tadi, yang tulisannya, tanpa seizin bahkan sepengetahuannya, saya pindahkan ke sini hampir secara verbatim.

Jadi, ingatan yang ditransformasi sebagai identifikasi sosok yang diingat itu mengubah hidup yang dirundung ketakutan jadi hidup yang dipenuhi kedamaian. Jangan-jangan, kalau orang dirundung ketakutan, ia tak move on dari romantisme indah sosok masa lalu, tak bisa mengidentifikasi diri sebagai murid sosok yang diingat itu tadi.

Saya sederhanakan dengan contoh penonton bioskop. Syukur kalau Anda punya pengalaman menonton film laga di bioskop. Andaikanlah Anda menonton film laga dengan jagoan yang akhirnya mendapatkan kemenangan setelah tertatih-tatih jadi bulan-bulanan musuhnya. Jagoan ini jadi protagonis yang keluar sebagai pemenang: kuat, tak mudah menyerah, tak takut, dan akhirnya menang. Begitu Anda keluar dari bioskop, Anda merasa seakan-akan jadi jagoan seperti protagonis film tadi.

Perasaan seakan-akan jadi jagoan itu bukan romantisme, melainkan jadi bagian dari proses identifikasi. Anda memang mengagumi jagoannya, tetapi Anda tak lagi sibuk memperdebatkan hebatnya jagoan itu. Rasa jadi jagoan itu adalah tahapan lebih jauh dalam identifikasi diri sebagai jagoan. Maka, orang beragama (apapun agamanya, kecuali agama degil, agama pongo, agama sesat, agama hambar, agama racun, atau agama semprul) yang mengalami kebangkitan itu bukanlah mereka yang getol membela tokoh agama dengan puja-puji atau debat mengenai kehebatan tokoh agama, melainkan mereka yang sudah menghayati nilai-nilai luhur yang dihidupi oleh tokoh agama yang bersangkutan.

Dalam konteks bacaan hari ini, kehebatan jagoannya tidak terletak pada otot, melainkan pada kualitas damai yang dihidupinya: damai dengan diri sendiri, damai dengan sesama. Orang macam begini punya serenity yang membuatnya tetap damai meskipun diceburkan dalam situasi yang de facto bisa membuat orang galau, nervous, stres, labil, dan sejenisnya. 

Tuhan, semoga kami dapat menghidupi damai-Mu juga dalam aneka konflik yang tak terhindarkan dalam hidup sehari-hari kami. Amin.


MINGGU PASKA II B/2
8 April 2018

Kis 4,32-35
1Yoh 5,1-6
Yoh 20,19-31

Posting 2015: Anda Kembaran Tomas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s