Agama Pongo

Yesus dalam bacaan hari ini ditampilkan sebagai sosok yang provokatif, agitatif, mungkin juga ngeledek, tapi bisa jadi itu karena proyeksi saya sendiri saja. Lha wong sudah jelas hukumnya dilarang menyembuhkan pada hari Sabat, kok ya masih bertanya pula kepada ahli hukum,”Boleh menyembuhkan orang di hari Sabat gak ya?” Ini maksudnya piye, jal?

Meskipun demikian, saya tertarik pada reaksi para ahli Taurat dan orang Farisi yang digambarkan dalam bacaan itu. Seharusnya mereka dengan mantap menjawab “Tidak boleh!” dong. Akan tetapi, di situ dituliskan bahwa mereka itu diam semuanya. Iya, mereka itu diam semuanya. Di hadapan kebenaran, hukum terdiam, mak clakep. Orangnya sendiri mungkin juga bergumul dalam batin. Di satu sisi hukum mengatakan tidak boleh, tetapi di lain sisi, mereka tak tahu juga kenapa tidak boleh.

Itu persis yang dihidupi banyak orang beragama: tahu bunyi aturannya dan sangat patuh pada aturan itu, tetapi tidak mengerti mengapa aturan itu dibuat! Jadilah orang-orang beragama yang saleh tetapi kesalehannya tak lebih dari kompulsi belaka; berdoa karena merasa doa itu kewajiban, berbuat baik pun juga merupakan buah dari keharusan, bukan karena panggilan yang timbul karena perjumpaan dengan Sang Pemanggil. Masih ingat ilustrasi tentang anjing mengejar kelinci, bukan? [Kalau lupa tetapi mau ingat ya klik saja link yang tersembunyi pada kalimat berwarna merah itu. N.B. Yang berwarna merah di blog ini biasanya adalah link yang kalau diklik atau ditap akan membuka halaman baru.]

Lah, jadi apa semua orang beragama itu mesti jadi ahli atau pemuka agama, Mo? Ya jelas tidak, gilu le Ndro! Tapi kalau mau ya silakan sih, tidak jelek juga. Yang penting bukan bahwa orang tahu bunyi aturannya dan mengapa aturan itu muncul, melainkan bahwa orang menemukan klik kecocokan antara yang profan dan yang sakral. Kalau hanya berhenti pada pengetahuan mengenai aturan hukum dan alasan-alasannya, orang cenderung akan jatuh pada soal ortodoksi ajaran tertentu.  Tolok ukurnya jadi benar-salah, lalu orang yang satu akan mengklaim diri lebih ortodoks, lebih benar dalam menghayati agama, lebih suci, lebih murni, lebih asli daripada mereka yang tak jelas, anarkis dan sejenisnya.

Padahal, benar-salah bukanlah satu-satunya pola pikir utama dalam mengarungi hidup ini secara sehat dan menggembirakan juga dalam hidup beriman kepada Allah. Kadang kali bisa jadi tolok ukurnya lebih merujuk pada mana yang useful dan mana yang kurang useful bagi hidup yang wajar. Itu mengapa para ahli Taurat dan orang Farisi mak clakep sewaktu ditanyai Yesus. Lha mau gimana lagi, jebulnya penyembuhan orang sakit pada hari Sabat itu lebih useful bagi kemanusiaan yang terjamah oleh keilahian.

Karena itu, poinnya bukan bahwa semua orang harus tahu bunyi aturan hukum dan alasannya, melainkan bahwa juga dalam ketidaktahuan akan alasan aturan hukum itu, orang terbuka pada kenyataan hidup yang lebih membantu orang mendekat kepada Allah. Mendekat kepada Allah, tak lain adalah menghindari diri jadi skandal bagi orang lain untuk menerima Allah yang menjadi Bapa bagi semua, tanpa diskriminasi.

Ya Allah, mohon rahmat kerendahan hati supaya kami dapat berjumpa dengan-Mu dalam segala. Amin.


HARI JUMAT BIASA XXX A/1
3 November 2017

Rm 9,1-5
Luk 14,1-6

Jumat Biasa XXX B/1 2015: Agama Sesat
Jumat Biasa XXX A/2 2014: Ganti Fokusnya, Bray!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s