Agama Semprul

Pada saat kemarin saya posting tulisan mengenai terlalu seriusnya kita beragama, ada berita dari negeri tetangga mengenai seorang uskup Gereja Katolik yang dilindungi para pemuda Islam dari ulah kaum radikal yang mengintimidasinya. Saya tak tahu kasusnya, tetapi kalau membaca pernyataannya di media negeri tetangga, ini adalah soal penentuan apakah hukum sipil atau hukum agama yang mesti diterapkan terhadap kepindahan orang dari agama semprul yang satu ke agama semprul yang lainnya. Tentu, sekali lagi, tak ada agama semprul (sebagaimana tak ada garis ekuator), yang semprul ya orang-orangnya itu.

Kasus itu menjadi contoh betapa kita sedemikian serius dengan agama, bukan demi menata relasi harmonis manusia dengan Tuhannya, melainkan demi ideologi kekuasaan. Itu disinggung lagi dalam teks bacaan hari ini. Ibu dua murid, dua belas murid dari si guru itu menangkap warta yang disampaikan guru dengan frame kekuasaan. Si ibu memintakan privilese kuasa bagi dua anaknya, sepuluh murid yang lain protes karena mereka juga berpikir dengan frame yang sama. Ibu dan murid-murid semprul!

Apakah yang semprul cuma mereka itu? Ya tidak. Anda, saya, kita tak jauh semprulnya dari mereka, cuma kesemprulan kita itu mungkin lebih variatif dari kesemprulan mereka. Tak perlu saya sebutkan satu per satu kesemprulan kita di sini, nanti membuka kesemprulan saya sendiri dong, hahaha… nja’im…. Ya bukan ja’imlah, cuma perlu dibedakan ranah privat dan publik dong, kalau tidak, nanti apa-apa aja jadi konsumsi publik. Saya akan bocorkan kesemprulan saya pada tukang tadahnya. Suwer deh… 

Yang relevan bagi kita adalah penangkal kesemprulan itu, yang jelas adalah lawan dari frame yang dipakai ibu dan para murid itu tadi. Apakah itu? Saya kutipkan saja kata-kata para pendahulu, murid-murid si guru itu juga. Yang pertama ialah kata-kata Elisabet dari Hungaria yang hidup di awal abad ke-13. Katanya, melayani Tuhan dalam kemiskinan, itulah arti ‘memerintah’. Tentu kemiskinan bisa ditafsirkan macam-macam, tetapi konteks hidup Elisabet ialah dia sejak kecil tinggal di istana kerajaan dan pada usia belia menikah dengan seorang ksatria Perang Salib. Matilah suaminya dan dia jadi single mother untuk tiga anaknya, tetapi itu tak lama. Ia terpisahkan dari anak-anaknya dan lalu hidup bersama orang-orang miskin di luar istana.

Yang kedua ialah kata-kata Klemens yang hidup pada abad pertama, Paus ketiga. Dia berpesan begini: lebih baik kalian tetap kecil saja tetapi berpengharapan kepada Tuhan daripada terlihat besar tetapi kehilangan harapan yang dijanjikan Tuhan. Konteksnya adalah masa persekusi, bukan hanya pemuka agama, melainkan juga seluruh penganut agama saat itu yang tidak tunduk pada paksaan religius kekaisaran Romawi.

Dalam kata-kata kedua murid itu terdapatlah frame yang berseberangan dengan konsep kekuasaan. Kalau orang mau hidup beragama, ia justru perlu mewaspadai setiap gerak-geriknya supaya sebisa mungkin terhindar dari pola power relation, yang senantiasa bertendensi menundukkan yang lain, membelenggu yang lain, merampas kebebasan yang lain. Kalau tidak, orang-orang ini sedang menciptakan agama semprul, ya agama dia sendiri, yang menjauhkannya dari panggilan untuk memerdekakan manusia.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami mampu membebaskan diri dari gelojoh kekuasaan. Amin.


HARI RABU PRAPASKA II
28 Februari 2018

Yer 18,18-20
Mat 20,17-28

Posting Tahun 2017: Si Pandir
Posting Tahun 2016: Harga Penderitaan

Posting
 Tahun 2015: Jangan Tanya Dapat Apa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s