Si Pandir

Orang pandir itu bertanya di mana bulan dan kalau ada orang yang menunjukkannya pake’ telunjuk, yang dilihat orang pandir itu adalah telunjuknya. Begitulah. Ketika si pandir ini disebut pandir, ia berdalih dan menyerang orang yang menunjukkan bulan kepadanya telah menistakan jari-jari tangan bahkan badannya juga! Buset dah, belum kelar juga ini kasus penistaan dan problemnya menjalar sampai urusan kematian. Ngeri-ngeri gimana gitu.

Orang pandir itu adalah kita, yang tak beda jauh kepandirannya dari murid pilihan Yesus sendiri. Sudah kesekian kalinya Yesus menyatakan bahwa ia akan jadi sasaran empuk para ahli agama yang kongkalikong dengan orang oportunis kekuasaan politik, tetapi para murid tetap berpikir dan melihat bahwa kuasa guru mereka adalah kuasa politis. Itu mengapa bagi dua murid diusulkan posisi penting dalam kerajaan yang menurut mereka hendak dibangun Yesus.

Sepuluh murid lainnya, ya itu tadi, sama pandirnya, memarahi dua murid itu bukan karena mereka paham yang dinyatakan Yesus, melainkan karena mereka punya target posisi penting itu juga. Singkatnya, murid-murid nan pandir itu melihat hasil akhir tanpa peduli bagaimana orang bisa sampai ke sana. 

Sekali lagi, murid-murid nan pandir itu adalah kita. Mari ambil contoh ungkapan “iman tanpa perbuatan adalah mati”. Orang pandir melihat perbuatan sebagai yang paling penting karena omong kosonglah iman tanpa perbuatan. Lain lagi, dengan contoh Suor Cristina sebagai penggambaran kerohanian sejati, orang pandir menangkap yang paling penting dalam kerohanian seseorang ialah mengembangkan talenta atau bakat sebaik-baiknya. Yang mungkin marak dalam logika orang muda: orang berdoa bisa di mana saja, tak butuh ritual doa bersama di tempat ibadat, yang penting moralnya baik.

Dasar pandir! Dia kira bisa juara All England tanpa fokus pada pilihan dari momen ke momen: mau berlatih berapa jam hari ini, mau pantang apa, mau memperbaiki apa, mau meninggalkan apa, dan sebagainya. Begitu pula kerohanian atau kesucian hidup orang, tidak terletak pada penampilan atau status hidup orang, tetapi pada bagaimana pilihan-pilihan yang dilakukannya mengarah ke penampilan atau status hidup itu.

Tolok ukur yang disodorkan Yesus hari ini jelas: kalau proses pemilihan dari waktu ke waktu itu tak diwarnai penderitaan, kerohanian atau kesucian itu omong kosong. Awas pandir! Ini bukan soal bahwa kalau orang menderita berarti ia suci! Yang begini ini paling banter cuma bisa jadi bebek kesengsaraan, ikut-ikutan hidup sok susah menderita. Kesucian hanya berlaku jika penderitaan berasal dari dorongan Allah sendiri, dari gerak untuk melayani Sabda atau kehendak Allah untuk menyatakan diri-Nya.

Itu mengapa ungkapan “Christ yes, Church no” atau “God yes, religions no” kebanyakan hanyalah kamuflase kepandiran orang. Tak ada orang pandir yang hati dan budinya terbuka karena merasa kebenaran ada di kepalanya sendiri dan membongkar apa yang ada di kepalanya memang bisa jadi membuat penderitaan luar biasa.

Ya Allah, mohon keterbukaan hati untuk senantiasa menguji diri di hadirat-Mu. Amin.


HARI RABU PRAPASKA II
15 Maret 2017

Yer 18,18-20
Mat 20,17-28

Posting Tahun 2016: Harga Penderitaan
Posting
 Tahun 2015: Jangan Tanya Dapat Apa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s