Awas Jurang

Mungkinkah bumi ini diciptakan demi beberapa gelintir orang yang harta kekayaannya tercatat dalam majalah Forbes? Rasa-rasanya tidak ya. Sebelum ada manusia, entahlah, mungkin bumi ini asri-asri saja meskipun dunia faunanya mungkin terkesan ganas. Yang bisa saya bayangkan adalah pemandangan dari udara ke wilayah dari Enarotali ke Nabire: hijaaauuuuu semua karena hutan lebat [memang sih ada beberapa titik seperti pembukaan lahan dan aliran sungai berair coklat; itu sekitar enam tahun lalu]. Setelah ada manusia, pemandangannya seperti dari Balikpapan ke Bontang: gersang, di mana-mana ada kubangan bekas tambang atau lahan sawit yang usang.

Jadi memang problemnya ada pada manusia ya, sejak dulu sampai sekarang, dari timur ke barat dan utara ke selatan. Apakah manusia jahat? Gak juga, sekurang-kurangnya tidak semua manusia jahat, termasuk mereka yang namanya tertera di majalah Forbes sebagai manusia bergelimangan harta di dunia ini. Injil hari ini pun tidak mengisahkan seorang kaya yang jahat, yang mengeruk kekayaan alam tanpa berbagi dengan mereka yang lahir dan mati di atas tanah tempat sumber daya alam itu dieksploitasi. Ini bukan orang kaya rakus dan menindas sesamanya. Cuma dikatakan ia setiap hari bersukaria dalam kemewahan. Sepertinya juga belum ada orang yang dipenjara semata karena bersukaria dalam kemewahan. Wajar dong orang bersukaria dalam kemewahan.

Yang tidak wajar ialah jika sukaria dalam kemewahan itu tak terhubung dengan semesta yang memberinya kemewahan itu. Lha memangnya apa kontribusi orang-orang Somalia, misalnya, yang karena perang saudara malah kondisinya mengenaskan? Apa sumbangan penduduk lokal yang jelas buta terhadap teknologi tinggi yang dipakai untuk mengeruk tambang emas, misalnya? Apa salahnya memindahkan orang-orang bodoh ini ke tempat lain sesuai dengan kesepakatan ganti rugi? Ini fair, bukan?

Ah, sudahlah. Tak perlu berdebat mengenai keadilan macam begini karena ujung-ujungnya pihak yang paling diuntungkan akan mengklaim ini fair dan yang paling dirugikan mengatakan ini tidak fair. Ini sentimen untung rugi yang tak kunjung usai. Yang perlu ditinjau ulang ialah paradigma dasar mengenai liyan (pihak lain): apakah ia menganggap orang lain sebagai saudara seperjalanan atau penghambat jalan sukaria kemewahannya. Paradigma pertama cenderung memungkinkan peluang sukaria bersama. Paradigma kedua bertendensi membuat jurang yang membahayakan kesehatan jiwa.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami mampu membangun peluang sukaria bersama lebih daripada jurang pemisah dengan sesama kami. Amin.


HARI KAMIS PRAPASKA II
25 Februari 2016

Yer 17,5-10
Luk 16,19-31

Posting Tahun 2016: Buka Pintu Beta Mau Masuke
Posting Tahun 2015: When Good Men Do Nothing

Posting Tahun 2014: Kemiskinan: Mengandalkan Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s