Silence, Please!

Silence adalah film terberat yang pernah saya tonton. Saya terheran-heran mengapa bersama saya ada cukup banyak penonton tetapi saya tak heran bahwa di dekat saya ada yang berkali-kali menguap karena nguantuk. Ini sama sekali bukan film hiburan [dan pasti takkan bertahan lama masa tayangnya di XXI]. Kalau orang tak tahan dengan silence, itu bisa dimengerti juga karena begitu orang masuk dalam keheningan, ia hanya berhadapan dengan dirinya sendiri. Tak banyak orang yang tahan berhadapan dengan dirinya sendiri. Orang lebih cenderung bersembunyi dari dirinya dengan ‘ribut bersama’ orang lain dengan dalih “perjumpaan”. Orang macam ini lupa, atau tidak tahu, bahwa perjumpaan dengan orang lain baru bermakna jika di situ orang menjumpai dirinya sendiri.

Sewaktu Padre Rodriguez ditemui Kichijiro yang bolak-balik minta pengakuan dosanya didengarkan, sebenarnya Rodriguez bergumul juga dengan dirinya sendiri. Ia sendiri hidup dalam dunia yang dijalani Kichijiro, dunia yang penuh kerapuhan dan harapan akan kekuatan yang berasal dari Allah sendiri. Di penghujung film, Kichijiro yang tampaknya merasa skrupel (bersalah) karena mengikuti formalitas yang dilakukan penguasa Jepang sebagai kontrol terhadap orang-orang Katolik, ternyata lebih dari apa yang tampak. Ia menginjak simbol Yesus, tetapi ternyata punya simbol Yesus lain pada kalungnya, sehingga dia ditangkap (dan kiranya dibunuh; tak dikatakan dalam film). Artinya, kekatolikan memang hendak dipangkas sampai ke akar-akarnya.

Rodriguez merasakan betul bagaimana diamnya Allah seakan-akan memang Tuhan itu tiada atau bungkam terhadap penderitaan dan kematian umat-Nya, juga Garupe rekan imam jesuitnya. Rodriguez sampai pada titik tak sanggup lagi menanggung diamnya Allah sehingga ia mengikuti jejak seniornya, Ferreira, untuk mengikuti formalitas yang ditentukan penguasa wilayah: menginjak simbol Yesus. Betul, itu memang hanya formalitas, dari cara pandang penguasa, tidak mengubah iman kepercayaan orang Katolik, tetapi rupanya tidak demikian bagi Rodriguez. Itu adalah simbol kerapuhan dan kelemahan. Itu juga yang setiap kali diakukan oleh Kichijiro.

Menariknya, pada akhir hidupnya, Rodriguez, dengan nama Jepang Okada Sanyemon, dimakamkan sebagai Buddha ‘anumerta’. Padahal, ‘istri’-nya meletakkan salib pada tangan jenasahnya. Artinya, Buddha ‘anumerta’ tadi merupakan formalitas yang membungkus Rodriguez. Salib juga sama, formalitas. Hatinya bagaimana? God knows. Akan tetapi, menilik pergumulan Rodriguez tentang diamnya Allah, saya meyakini hatinya tetap terpaut pada Allah karena dinyatakan juga dalam bacaan hari ini: batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru; hal itu terjadi dari pihak Tuhan yang bagi manusia kiranya merupakan keajaiban.

Juga dari kerapuhan atau kelemahan manusiawi, Allah, yang tampaknya diam itu mampu melakukan transformasi sehingga kemuliaan-Nya ternyatakan. Kisah dalam bacaan pertama juga menunjukkan bagaimana diamnya Allah itu adalah teriakan Ruben supaya Yusuf adik bungsu mereka tak dibunuh, tetapi dijual sebagai budak.

Transformasi dari kerapuhan kepada kekuatan Allah tak terjadi jika orang sendiri berisik dan tak bisa mendengarkan suara batinnya, tempat Allah menggemakan seruan-Nya. Silence, please!

Tuhan, juga pada saat Engkau tampak absen, mampukanlah kami untuk hening dan bertekun dengan pergumulan untuk senantiasa memautkan diri pada-Mu. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA II
17 Maret 2017

Kej 37, 3-4.12-13a.17b-28
Mat 21,33-43.45-46

Posting 2016: Persaudaraan Tak Otomatis
Posting 2015: Pemahaman Nenek Lu!

Posting 2014: Matinya Empati Kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s