Harga Penderitaan

Pada saat orang merasa takut, biasanya ia mencari kekuatan dari apa yang ada di dekatnya. Kalau tak ada, batinnya mungkin menjerit memanggil Superman. Tapi bisa Anda bayangkan ketika orang takut melewati kuburan di malam hari lantas ia berbelok bermaksud menjauhi kuburan dan di tikungan itu dijumpainya keranda berisi pocongan yang kepalanya melongok ke luar! (Wah kurang serem, Mo. – Ya wis, sak karepmu)

Yesus kiranya mulai mencium bau tanahnya dengan segala perseteruannya. Di depannya sudah terhampar masa depan yang bisa dikalkulasi. Ia akan dibunuh, entah bagaimana caranya dan entah konspirasi siapa saja. Bacaan pertama menggambarkan situasinya. Takut, ngeri, cemas? Saya kira rasa itu ada juga. Tak heran ia beberapa kali menyatakannya kepada orang-orang dekatnya. Ia tidak membuat pengumuman kepada setiap orang, cuma orang-orang dekatnya, dengan harapan mereka punya pengertian, berempati dan bisa meneguhkannya. Akan tetapi, karepe mbilung, alih-alih mendapat peneguhan, Yesus justru mendapat respon yang orientasinya tak beda jauh dengan mereka yang kelak mengantarnya pada kematian!

Jebulnya orang-orang dekatnya juga punya pikiran serupa dengan orang kebanyakan itu: pikir mengenai kesuksesan sebagai posisi tinggi, penghasilan menjulang, populer di segala penjuru, dan tak punya toleransi pada kegagalan, kelemahan, kerapuhan, kemiskinan, penderitaan, dan sejenisnya. Mentalitas pemenang atas orang lain ini begitu kuat hidup dalam murid-murid Yesus sendiri dan mungkin memang mereka tak pernah belajar mentalitas kemenangan yang lain: menang atas diri sendiri. Bagaimana mereka bisa memelihara mentalitas busuk macam itu? Kiranya belajar dari ibu mereka juga, yang mbribik Yesus supaya anak mereka dapat posisi tinggi. Oalah, mak nyak, mak nyak… maksud hati membahagiakan anak, tapi apa artinya bahagia tanpa penderitaan, tanpa kesusahan, tanpa kerja keras, tanpa peluh, tanpa kegagalan, tanpa puasa, tanpa kemampuan mengalahkan diri sendiri?

Tentu saja, mak nyak tidak sendirian. Dia bersama ortu lainnya, bahkan mungkin pendidik lainnya, tak begitu peduli dengan makna penderitaan. Tak hanya itu, orang bahkan tak peduli dengan makna atau nilai apa saja, yang penting dapat kerja bergengsi, dapat gaji tinggi, dapat istri (atau suami), dapat banci, dapat kursi, dapat posisi, jangan sampai jadi juru kunci! 

Mungkinkah dalam seluruh struktur DNA manusia terselip mentalitas pemenang atas orang lain, dan bukan atas diri sendiri? (Weh, kejauhan gak, Dok?) Celakalah kalau begitu karena dengan mentalitas macam itu justru orang rapuh, tidak imun terhadap kerasnya hidup, cengeng, doyan mencontek, plagiat, tak punya daya tahan, mudah putus asa dan kehilangan arah. Astaga! Apa yang sedang terjadi, Ruth Sahanaya?

Ada sekelompok ibu yang nyeletuk: Loh, kami itu sudah menantang anak kami loh, mereka sudah kami latih kerja keras sejak dini, untuk ngemis, untuk les ini itu, untuk lomba ini itu. Mereka kami ajari disiplin supaya nanti kalau besar tidak ketinggalan. Lha lha lha itu: ditanamkan ideologi persaingan sampai-sampai si anak kehilangan masa kanak-kanak, dunia kanak-kanaknya. Bisakah orang mendidik bukan dalam nuansa persaingan? Bukan dalam nuansa ketakutan?

Tuhan, mohon kejernihan hati dan budi untuk memaknai seluruh kesulitan hidup kami dalam terang hidup kekal-Mu. Amin.


HARI RABU PRAPASKA II
24 Februari 2016

Yer 18,18-20
Mat 20,17-28

Posting Tahun 2015: Jangan Tanya Dapat Apa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s