Agama Ciyus

Salah satu dosen saya sempat berkomentar bahwa kita itu terlalu serius beragama. Saya mendapati kesan yang sama. Orang sedemikian serius beragama sampai-sampai agama itu malah jadi beban, padahal dulunya agama dimaksudkan justru untuk membebaskan orang dari aneka macam ikatan yang membatasi geraknya untuk mengalami kebahagiaan hidup sebagai anugerah Allah. Kok bisa ya lalu malah jadi beban?

Ya bisa saja karena justru agama diperlakukan seperti fenomena sosial lainnya. Betul bahwa agama itu elemen penting dalam masyarakat yang berurusan mulai dari manusia lahir sampai mati, tetapi kalau agama cuma dianggap sebagai fenomena sosial, dia justru akan jadi beban yang bikin ribet orang. Mari lihat misalnya peraturan pemerintah Nomor 54 Tahun 2007, pasal 3 tentang adopsi anak.

Ayat satu menyebutkan bahwa calon orang tua angkat harus seagama dengan agama yang dianut oleh calon anak angkat. Ayat ini mengasumsikan bahwa seorang bayi mak jebrol lepas dari kandungan ibunya langsung punya agama semprul. Takdirmu, Nak, kalau mau lahir di bumi ini, Indonesia tercinta, kamu harus beragama sebelum kamu bisa menangis. Kamu tak bisa memilih: agama atau mati.

Ayat dua menyebutkan bahwa jika asal-usul mak jebrolnya tadi tak diketahui, maka agama anak itu disesuaikan dengan agama mayoritas penduduk setempat. Artinya, kalau pasangan cabul tak menghendaki merawat bayi mereka dan tidak mau ketahuan orang seagama mereka, tinggal pergi ke wilayah yang mayoritas berpenduduk agama semprul dan membuang bayinya di sana secara hati-hati supaya tak ketahuan. Sama-sama untung: jumlah penganut agama semprul bertambah, pasangan cabul tak ketahuan.

Itu adalah contoh bagaimana kita itu sedemikian serius dengan agama sehingga malah agama jadi cuma urusan kemunafikan dan statistik angka. Apakah ini mengada-ada? Tidak! Sudah ada kasusnya tahun lalu; seorang polisi wanita di Binjai tak bisa mengadopsi anak yang ditemukannya di parit. Agama oh agama. Jangan-jangan semakin orang cinta pada agama, semakin ia keblinger

Akan tetapi, saya kira bukan cintanya yang bikin keblinger. Sudah saya katakan tadi, orang terlalu serius dengan agama tetapi agama ditangkapnya sebagai fenomena sosial belaka. Sebagai fenomena sosial, agama akan dibahas, ditangkap, dilaksanakan, diperlakukan seperti fenomena lainnya dengan kuantifikasi, dengan saintifikasi, dengan ngawurisasi.

Itulah mengapa sang guru dalam bacaan hari ini mengingatkan murid-muridnya supaya tidak tertipu oleh selebriti-selebriti agama yang omong sana omong sini (lari sana lari sini, sembunyi sana sembunyi sini) tetapi mereka sendiri tidak menghidupi apa yang dianjurkannya pada orang lain. Runyam deh kalau agama dipimpin oleh orang bermuka tembok, apalagi berkolaborasi dengan politik kekuasaan. Agama yang semestinya membebaskan hati orang malah jadi beban dan teringatlah saya pada kalimat Kitab Suci milik Om saya, yang jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris: “There is no compulsion in religion. Verily, the right path has become distinct from the wrong path”. Tak ada faedahnya memaksa orang beragama karena agama sendiri sudah semestinya bukan paksaan, melainkan panggilan. Jadi, selow aja, Brow, Tuhan lebih mahakuasa daripada kita semua.

Ya Allah, mohon rahmat-Mu supaya kami orang-orang beragama mampu membebaskan diri dari belenggu agama kami sendiri. Amin.


HARI SELASA PRAPASKA II
27 Februari 2018

Yes 1,10.16-20
Mat 23,1-12

Posting Tahun 2017: Akal Budi/Bulus
Posting Tahun 2016: Agama Songong
 
Posting Tahun 2015: Makin Tinggi, Makin Melayani

Posting Tahun 2014: Tobat: Lebih dari Sekadar Kapok…

3 replies

  1. Agama langit dan agama bumi, ia bukanlah agama manusia.?! Melainkan ia adalah agama allien di langit, Tuhan nya di atas Arash duduk di kursi, mengarang ayat ayat suci, keji kebencian, kekerasan, berdasarkan Love 😍 cinta buta.. tidak suka di dua kan.. Kerana cinta itu ada sifat cemburu.. yang harus orang yang patuh kepada Tuhan nya masing..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s