Kêwêlèh

Dalam bahasa Jawa ada kata yang menunjukkan arti ungkapan menepuk air di dulang tepercik muka sendiri: kêwêlèh. Ini kata yang membuat orang perlu tahu diri, mawas diri, mengukur kemampuan dan kelemahan sendiri, sebelum berkoar-koar mengkritik orang lain. Kalau orang mengenal rasa malu, kêwêlèh ini akan membuat rasa malunya menjadi-jadi. Kalau tidak, yang ada cuma pembenaran diri.

Saya teringat komentar salah seorang kawin terhadap posting mengenai buah kejujuran kemarin. Ia melakukan falsifikasi (lawannya verifikasi): menurut pengakuannya, ia mendapati ada manggis yang tak jujur.  Untunglah manggis tak punya rasa malu (menurut saya; menurut manggis sendiri mungkin dia punya rasa malu) sehingga dia tak perlu jadi kêwêlèh tadi, lagipula dia tidak mengklaim diri tanpa dusta. Sayalah yang menyatakan bahwa manggis adalah buah kejujuran.

Dari falsifikasi temin itu, saya sadar bahwa saya hanya bisa membuat pernyataan umum mengenai manggis, yang tidak bisa dipukul rata untuk seluruh manggis di segala penjuru dunia sepanjang segala zaman. Tersadarlah saya bahwa orang tak bisa membuat pernyataan mutlak karena memang semesta tempat hidupnya ini tak sepenuhnya tertampung dalam model berpikir manusia. Bahkan, pun jika orang mengatakan Tuhan adalah Maha Esa, itu merupakan pernyataan umum yang menunjukkan keyakinan orang pada keesaan Tuhan.

Akan tetapi, jelaslah bahwa satu di situ tidak berarti seperti kalau orang menyebut kuantitas satu mobil, satu motor, satu kipas angin, satu payung atau satu sepeda hadiah presiden. Ini bukan lagi soal kuantitas, melainkan juga soal kualitas, sifat atau cara berada, sehingga dalam kata satu itu juga bisa dikandung dua, tiga, sembilan puluh sembilan, dan seterusnya. Maka, orang beragama semestinya tidak semakin arogan atas pemahamannya sendiri, apalagi memakainya untuk menghakimi pihak lain. Orang beragama justru perlu rendah hati mengakui keterbatasan perspektif diri dan tak perlu juga mereduksi hidup ini seakan-akan sebagai persoalan agama semata.

Kalau itu yang terjadi, saya percaya, pada saatnya, orang beragama akan kêwêlèh dan itu justru merugikan diri sendiri. Maksud hati membela agama, apa daya malah menunjukkan kebusukan agama. Maksud hati menjaga harga diri, apa daya malah memamerkan kerapuhannya di hadapan politik, negara, preman, dan seterusnya. Ngeri kan kalau lembaga yang mestinya menjadi penjaga moralitas malah membuka kedok orang-orangnya yang tak bermoral [gak mau diproses pula, halah]. 

Ya Allah, kami mohon rahmat kerendahan hati untuk senantiasa bermawas diri. Amin.


HARI SENIN PRAPASKA II
26 Februari 2018

Dan 9,4b-10
Luk 6,36-38

Posting Tahun 2017: Siapa Modelku?
Posting Tahun 2015: Bukan Gaya Murahan

Posting Tahun 2014: Solidaritas dan Arogansi Terselubung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s