Jalan-jalan Berhadiah

Sejak kejatuhan Adam Husein tahun 2005 dulu, peziarah Arbain Walk menuju Karbala, Irak, melonjak drastis. Konon, ada puluhan juta umat Islam setiap tahunnya yang berziarah pada peringatan hari Arbain (hari ke-40 setelah Aba Abdullah al-Hussein, cucu Nabi Muhammad dibunuh di Karbala, please correct me if I’m wrong). Peziarah ini mendapat dukungan dari umat yang murah hati di sepanjang perjalanan, yang pada bulan itu itu mendedikasikan harta mereka untuk menyediakan tempat istirahat, makan-minum, pengobatan gratis.

Kiranya Arbain Walk adalah ziarah terbesar di dunia, tetapi tentu bukan satu-satunya peziarahan jalan kaki. Juga dalam tradisi agama lain ada peziarahan serupa dengan variasi tertentu seturut keyakinan dalam agama yang bersangkutan. Teks bacaan pertama hari ini juga menyiratkan suatu peziarahan. Abraham berjalan kaki bersama puteranya menuju suatu bukit seturut mandat Allah untuk mengorbankan anaknya. Teks bacaan terakhir juga ada unsur berjalan (mungkin sesekali berlari ya, entahlah) ke gunung tinggi dan ujung-ujungnya ada transfigurasi (si guru berubah rupa, hiiii).

Sepertinya tak ada hubungan antara Arbain Walk di Irak, camino de Santiago di Spanyol, Kumbh Mela di India, jalan pengorbanan Abraham, dan transfigurasi guru dari Nazareth. Tali macam apa yang bisa menghubungkannya?
Kalau transfigurasi itu diletakkan di akhir, kiranya aneka peziarahan tadi sebetulnya sama-sama merupakan jalan pengantar orang untuk masuk ke dalam misteri hidup manusia sendiri. Dalam perjalanan hidupnya, manusia mesti sampai pada momen kritis untuk menentukan pilihan dan setiap pilihan macam begini pasti menuntut suatu pengorbanan.

Kata korban itu bisa jadi segera terasosiasikan dengan kondisi berdarah-darah, tapi mungkin baik juga memperkaya maknanya dengan belajar dari bahasa lain: sacrifice. Anda pasti tahu bahwa kata itu berasal dari bahasa Latin yang merupakan gabungan kata sacer (suci, sakral) dan facere (melakukan, membuat). Jadi, mengorbankan sesuatu berarti membuat sedemikian rupa sehingga kesucian hadir di situ. Abraham mengikhlaskan anaknya demi kehendak Allah. Pengorbanan jadi tindakan untuk semakin mendekatkan diri pada kesucian, pada Allah sendiri, pada kebaikan bersama.

Memang selalu bisa dipersoalkan apakah pengorbanan seseorang itu benar-benar tindakan penyucian atau kekonyolan; bergantung juga pada bagaimana orang memandang perjalanan hidupnya. Sebagian orang di rute Arbain Walk bisa saja disebut konyol karena meluangkan waktu sebulan untuk membagikan harta dan tenaga membantu peziarah, tetapi apa artinya kekonyolan itu kalau mereka sungguh mengalami berkat Tuhan sendiri dalam hidup mereka pada bulan-bulan lainnya?

Menilik kata-kata Anne Frank, mungkin bisa juga dikatakan No one has ever become poor by sacrificingYang bikin miskin orang bukanlah pengorbanannya, melainkan gila penghormatannya. Saya tak mau masuk wacana tentang orang gila dan hubungannya dengan pemuka agama. Pokoknya, pengorbanan memperkaya hidup orang karena hidupnya itu jadi berkat bagi dirinya maupun sesama.

Ya Allah, semoga rahmat-Mu memberanikan kami untuk mengorbankan apa saja demi kemuliaan nama-Mu yang tertera dalam kemaslahatan manusia. Amin.



HARI MINGGU PRAPASKA II B/1
25 Februari 2018

Kej 22,1-2.9a.10-13.15-18
Rm 8,31b-34
Mrk 9,2-10

Minggu Prapaska II B/1 2015: Abraham Samad-omba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s