Hatimu Terbuat dari Apa?

Sudah hampir dua minggu ini di akun medsos saya berseliweran foto tetangga kamar saya yang terkena pedang seharga handphone bekas [lumayanlah, kalau tak ketemu sewaktu sarapan masih bisa lihat fotonya di medsos]. Ada pertanyaan retorik yang saya tak bisa menjawabnya [Yeee…. namanya retorik ya gak usah dijawab toh, Mo. Lha iya, gak usah dijawab kan bukan berarti gak boleh dijawab]: terbuat dari apa hatinya kok bisa tetap senyum dan mengampuni pelaku.

Saya cuma tahu bahwa organ biologis hatinya made in Germany, tetapi hatinya pasti bukan cuma produk Jerman karena dia sudah berpuluh-puluh tahun hidup di Indonesia dan saya jamin Anda kalah jauh darinya dalam hal banyak-banyakan mengunjungi wilayah seantero Nusantara. Kunjungannya ke berbagai daerah di Indonesia pun bukan semata dalam rangka tamasya, melainkan mengenal karakter musik daerah, juga orang-orangnya. Jadi, mestilah hatinya terbuat juga dari perjumpaannya dengan orang dari Sabang sampai Merauke.

Sosok seperti ini bukan pribadi yang takut mati, sudah seperti nothing to lose. Mungkin sama juga dengan pelaku teror yang tak takut mati sih. Bedanya cuma motif dan sasaran. Yang satu diwarnai harapan dan cinta, yang lainnya didominasi keputusasaan dan kebencian. Yang diwarnai harapan dan cinta itu mesti melampaui konflik kepentingan yang melibatkan egonya. Untuk orang seperti ini, mencintai musuh sama sekali bukan tindakan irasional. Yang dikuasai keputusasaan dan kebencian pastilah memelihara konflik kepentingan demi egonya sendiri. Mencintai musuh adalah nonsense, mau dijelaskan bagaimana juga pokoknya nonsense.

Nah, orang-orang yang masuk ke dalam kelompok terakhir ini bisa jadi 58% jumlahnya untuk skala regional. Ngeri deh kalau betul begitu. Di skala nasional mungkin prosentasenya lebih kecil lagi, 48%: sejumlah itulah kaum terdidik yang meragukan kinerja presiden sekarang ini. Janjane ya gak perlu dimasukin ati ya komentar politikus itu. Kalau yang meragukan atau gak puas itu cuma 48% orang terdidik kan berarti yang puas atau sekurang-kurangnya tak membenci presiden ini 52%, masih lebih banyak. Tapi sudahlah, wong jebulnya itu ya cuma survei dari 500-an orang, padahal jumlah orang terdidik, kalau dibatasi pada alumni universitas yang dapat sorotan setelah kartu kuning ketua BEM-nya itu, jumlahnya empat puluh kali lipat dari yang disurvei. Kok bisa-bisanya bilang 48% orang terdidik meninggalkan presiden ya?

Ya itu tadilah, keputusasaan dan kebencian mewarnai perkataan dan perbuatan. Ini zamannya post-truth, sentimen apa aja dibuat, entah sesuai fakta atau tidak, pokoknya politikus bisa mendapatkan keuntungan bagi dirinya. Memang sekarang jumlahnya cuma 48%. Semoga tidak jadi 58%. Ngeri loh kalau sampai 58% tidak puas pada kinerja presiden sekarang ini. Yang puas pada kinerja pemimpin saja bisa memilih gabener, apalagi yang tidak puas!

Semoga semakin banyak orang yang memilih lantaran harapan dan cinta, bukan keputusasaan dan kebencian. Saya kira cukup dengan modal itulah orang menjatuhkan pilihannya. Kalau ditambah-tambahi dengan iman malah rawan dirancukan dengan agama, njuk jadinya seperti JKT58. Mau jadi apa negeriku?

Tuhan, besarkanlah harapan dan cinta kami supaya kami tidak sampai gabener dalam membuat pilihan. Amin.


HARI SABTU PRAPASKA I
24 Februari 2018

Ul 26,16-19
Mat 5,43-48

Posting Tahun 2017: Sudah Kuat?
Posting Tahun 2016: Bridge over Troubled Water
 
Posting
 Tahun 2015: Logika Paradoksal

Posting Tahun 2014: Masih Mau Korupsi? Plis deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s