Sudah Kuat?

Pada posting Tuhannya Nganu kemarin disodorkan golden rule sebagai syarat atau kondisi minim hidup dalam jalan Allah dan itu memang masuk akal. Gerombolan koruptor pun menerapkan prinsip itu, tetapi ini diandaikan Ahok bersih dari korupsi berjamaah KTP elektronik itu ya: mereka ‘mencintai’ koruptor-koruptor lainnya dan membenci Ahok setengah mati. Artinya, mereka memusuhi Ahok karena menolak kongkalikong untuk korupsi dan mengasihi para koruptor lainnya karena tau sama taulah demi perlindungan bersama. Ini kan prinsip golden rule juga: berbuat ‘baik’ kepada orang lain yang kita yakin akan membalas kebaikan kita karena kita tau sama tau.

Ya memang sih kalau mau diteliti lebih detail, ada problem dengan definisi kebaikan (mosok kongkalikong korupsi disebut baik), tetapi justru itulah persoalannya. Golden rule itu menjadi kondisi minim karena cuma menyodorkan ‘prosedur’ bahwa yang baik akan dibalas oleh kebaikan juga. Kalau pada kenyataannya air susu dibalas dengan air tuba, berlakukah golden rule?

Ternyata, meskipun aku ingin dipuji, bukan berarti dengan memuji orang lain aku akan dipuji oleh orang yang kupuji itu. Jebulnya, meskipun ada orang yang rajin salat untuk tetangganya, ia sendiri tak disalatkan saat meninggalnya [karena mendukung Ahok, misalnya]. Singkatnya, prosedur golden rule ternyata tidak bisa dimengerti dengan perspektif do ut des (memberi supaya menerima balasan setimpal).

Perspektif yang disodorkan dalam bacaan kedua hari ini mengoreksi prosedur yang umumnya dimengerti orang dari golden rule. Perspektif ini menyoroti sikap orang terhadap kenyataan gelap hidup manusia: bukan membencinya, melainkan mencintainya. Loh, mosok kenyataan gelap malah dicintai? Kejahatan kok dicintai!

Mohon diingat, mencintai tidak identik dengan menyetujui, mengikuti saja, atau bahkan memiliki, bukan? Mencintai kerapuhan sama sekali tidak berarti mempertahankan kerapuhan. Sebaliknya, orang meletakkan kerapuhan itu dalam terang cinta Allah sendiri sedemikian rupa sehingga terjadi transformasi dalam hidup manusia. Transformasi ini mengarah ke jalan Allah, bukan jalan pertentangan atau konflik horisontal.

Memang tidak mudah mencintai musuh, kejahatan, keburukan manusia. Ha nek gampang wae sudah sejak zaman Nabi Nuh gak ada lagi bunuh-bunuhan, fitnah-fitnahan, lapor-laporan, atau jegal-jegalan demi kekuasaan. Nasihat hari ini mengundang orang untuk memperhatikan titik terlemah dalam hidup manusia, bukan untuk membiarkannya jadi yang terlemah, melainkan untuk memungkinkan terjadinya transformasi ke jalan Allah tadi. Itu tak mungkin terjadi jika orang yang kuat cuma bisa menindas dan melindas yang dianggapnya jahat, dar der dor selesai gitu.

Kekuatan orang beriman tidak terletak pada kuasanya menundukkan yang lemah, melainkan pada kemampuannya untuk menguatkan atau memberdayakan yang lemah.

Tuhan, tambahkanlah iman kami supaya kami teguh dalam mencintai sesama. Amin.


HARI SABTU PRAPASKA I
11 Maret 2017

Ul 26,16-19
Mat 5,43-48

Posting Tahun 2016: Bridge over Troubled Water 
Posting
 Tahun 2015: Logika Paradoksal

Posting Tahun 2014: Masih Mau Korupsi? Plis deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s