Sidang Istimewa

Tadi malam saya terbangun, bukan karena mau nonton siaran Liga Champions, melainkan karena bermimpi Sidang Istimewa. Anggota DPR terjerat kasus korupsi semua dan saya mendesak tokoh-tokoh bangsa ini supaya meminta Jokowi membuat Sidang Istimewa untuk memutuskan supaya DPR dibubarkan, toh mereka sedang diproses hukum semua karena kasus e-KTP. Diganti saja, lewat pemilu nonpartisan, dengan orang-orang yang bersih dari mental korup! Dasar ngimpi! Yang namanya power itu ya tends to corrupt, dan itu gak selalu harus disertai niat yang sepenuhnya jahat atau jelek. Ada saja koruptor yang menyisipkan sedikit niat baik supaya bisa menutupi rasa bersalahnya atas niat jelek yang mungkin lebih dominan. Pemula dalam hidup rohani sulit melihat hal ini karena roh jahat memang bisa memanifestasikan kejahatannya dalam niat baik juga.

Bacaan hari ini mengingatkan: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kurang baik apa toh orang Farisi dan ahli Taurat itu? Mereka benar-benar ingin menjalankan perintah Tuhan dalam hidup mereka. Sayangnya, keinginan itu disisipi kepentingan diri sedemikian rupa sehingga mereka bisa begitu yakin bahwa kepentingan dirinya klop dengan kehendak Allah sendiri, seolah-olah apa saja yang mereka lakukan, karena klop dengan aturan agama, sesuai dengan kehendak Allah. Orang seperti ini kehilangan kemampuan untuk mengenali Allah yang mampu mengusik hati orang. Artinya, ia bahkan tak tahu apa yang sesungguhnya ia inginkan karena keinginannya sudah didomplengi oleh cinta diri itu.

Memang, pengenalan akan Allah mengandaikan juga pengenalan diri, justru karena Allah terus menerus menempa hidup manusia jati dirinya memanifestasikan wajah Allah di dunia. Tidak gampang, itu jelas. Tak mengherankan bahwa DPR, alih-alih menjadi Dewan Perwakilan Rakyat, malah menjadi Dewan Perwalian Rayap. Hal yang sama berlaku juga untuk MPR, MA, MK, presiden, menteri, agama, dan sebagainya. Power tends to corrupt. Ungkapan itu mengundang setiap orang supaya senantiasa mawas diri, melakukan Sidang Istimewa terhadap potensi korup yang dimilikinya. Potensi ini tak bergantung pada besaran hasil yang bisa diperoleh secara berjamaah, karena kepentingan diri bukan cuma soal jumlah nominal, melainkan juga soal harga diri, gengsi, status, dan lain-lainnya.

Tuhan, bantulah kami supaya mampu mendeteksi momen-momen ketika kami hendak menyelewengkan cinta-Mu. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA I
10 Maret 2017

Yeh 18,21-28
Mat 5,20-26

Posting 2106: Tobat, Kembali ke Cinta
Posting
2015: Kebenaran Agama vs Iman

Posting 2014: Ruang Tobat dan Pengampunan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s