Tuhannya Nganu

Doa permohonan bukanlah tes terhadap eksistensi Allah, melainkan ujian terhadap iman seseorang. Akan tetapi, perlu diakui bahwa orang cenderung menganggap doa sebagai ujian terhadap ada tidaknya Tuhan juga karena dikatakan dalam bacaan hari ini: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Untuk sebagian orang kata-kata itu klop: minta ini dapat ini, minta anu dapat anu. Kalau tidak? Berarti Tuhan gak nganu atau malah gak ada!

Nah, lebih penting bahas Tuhan gak nganu itu daripada Tuhan gak ada lha wong asumsi dasar blog ini Tuhan itu ada je. Apa maksudnya Tuhan gak nganu? Iya itu saya juga sebetulnya gak ngerti, tetapi syukurlah kemarin ada tetangga yang mengingatkan kata-kata Dietrich Bonhoeffer bahwa Allah itu adalah Bapa, bukan karena Dia memenuhi semua keinginan kita, melainkan karena Dia berpegang pada janji-Nya. Tetangga saya ini, punya posisi cukup tinggi di kota tempat tinggal saya, berbagi cerita bahwa ia minta satu anu malah dapat dua anu, atau mungkin lebih tepatnya minta anu satu malah dapat anu dua yang lebih besar dari yang dimintanya. Dalam bahasanya, ia katakan bahwa cinta Tuhan buat dirinya jauh lebih dahsyat daripada cintanya kepada Tuhan. Tentu saja, karena Tuhan memberikan diri-Nya secara total bahkan meskipun orang gak ngerti-ngerti juga totalitas pemberian Allah itu.

Allah memberikan diri-Nya, Roh Kudus-Nya, supaya orang bisa hidup bersama Tuhan dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam sehat dan sakit. Dengan demikian, doa tak bisa dijadikan tolok ukur untuk menguji ada tidaknya Allah atau cinta Allah, tetapi justru menguji iman seseorang, apakah ia hendak meletakkan hidupnya dalam terang Allah sendiri. Apa sih meletakkan hidup dalam terang Allah itu? Minimal: golden rule, yaitu segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.

Ya Allah, mohon rahmat ketulusan hati untuk bersyukur dan berbagi rahmat dengan sesama. Amin.


HARI KAMIS PRAPASKA I
18 Februari 2016

TambEst 4,10a.10c-12.17-19
Mat 7,7-12

Posting 2016: Vending Machine God
Posting 2015: Doa Jamu Air Manjur
Posting 2014: Praying Heart Implies Humility

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s